Menyoal Islah dalam Kemelut PBNU
- Ist
Di dalam facebooknya, pada Senin 30 Desember 2025 terpajang tulisan yang berjudul “Tidak Ada 'Islah", tanpa Pengakuan Dosa”, Kiai Imam Nakhai menulis bahwa:
“Puluhan ayat dalam Al-Qur'an menyatakan dengan terang benderang (dalalah qhat'iyyah), bahwa "Islah" tidak bisa terwujud kecuali ada "Taubat". Taubat adalah pengakuan dosa, penyesalan, dan komitmen untuk tidak mengulangi lagi. Dan jika ada dosa yang berkait dengan hak-hak terhadap manusia, maka wajib ditunaikan terlebih dahulu. Setelah keempat hal ini, Islah bisa diwujudkan. Bahkan jika dosa berkait dengan "informasi yang disembunyikan (katmul al-‘ilmi), ada kewajiban lain, yaitu klarifikasi (tanyiin).Tanpa Pengakuan dosa, penyesalan, komitmen tidak berulang, dan "mengembalikan" hak masyarakat, "Islah" adalah kepalsuan. Ibarat mengeringkan luka di luar, tetapi di dalam masih membusuk.
Beberapa konflik di tingkat nasional, mulai dari konflik bernuasa sara, ras, keyakinan, maupun dalam tubuh organisasi, kerap kali diselesaikan dengan Islah, sebelum pengungkapan dosa dilakukan. Al-Qur'an menyatakan, cara demikian adalah salah. Teori penyelesaian konflik dalam Al-Qur'an di mulai dari pertaubatan (pengakuan dosa, penyesalan—boleh dengan nangis nangis, niat tidak mengulangi, dan pengungkapan kebenaran), baru setelah itu upaya damai (Islah). Sekali lagi tidak ada Islah tanpa pertaubatan. Begitu tegas Al-Qur'an.”
Membaca tulisan Kiyai Nahai ini mengingatkan saya pada pandangan para ulama salaf as-shalih dan para sufi. Di antaranya Syekh Muhammad Nawawi al-Bantani di dalam kitabnya Salalim al-Fudhala menjelaskan syarat taubat yaitu mengakui kesalahan, menyesali, dan komitmen untuk tidak akan mengulangi lagi. Taubat yang serius dan memenuhi syarat disebut taubat nasuhah.
Bila hanya sekedar menyatakan khilaf, ceroboh, tidak cermat dan meminta maaf tanpa ada komitmen untuk tidak mengulangi lagi maka itu bukan taubat dan termasuk psiudo taubat (taubat yang palsu) yang biasa disebut ‘taubat sambal’. Karena ini bukan taubat nasuha. Di saat menyantap sambal kepedesan bilang pedas sekali dan tidak mau lagi memakannya. Tapi di lain waktu ketemu sambal kembali menyantapnya.
Apakah Gus Yahya sedang sungguh-sungguh bertaubat, taubat nasuha, atau sedang taubat sambal? Mari kita lihat realitas data dan faktanya. Pertama, kunjungan ke Israel bertemu Benjamin Netanyahu Perdana Menteri Israel dari Partai Likud, partai konservatif, pada saat menjabat sebagai Katib Am PBNU.