Ketegasan Tiongkok dan Perubahan Tempo Politik di Asia Timur
- scmp.com
VIVA – Kebangkitan kembali posisi nasionalis di seluruh Asia Timur sering dijelaskan sebagai kebangkitan kembali keluhan historis atau mobilisasi politik domestik. Namun, penjelasan tersebut semakin gagal menangkap pendorong kontemporer yang membentuk sikap regional.
Ketegangan baru-baru ini antara Jepang dan Tiongkok atas Taiwan menawarkan lensa yang lebih langsung dan meyakinkan. Latihan militer skala besar Beijing di sekitar Selat Taiwan, ditambah dengan retorika peringatannya yang ditujukan kepada negara-negara yang dianggap 'ikut campur', telah menempatkan Jepang dalam sorotan strategis yang tak terhindarkan.
Bagi Tokyo, masalah Taiwan bukan lagi masalah yang jauh tetapi masalah keamanan yang dekat, dengan rudal Tiongkok, aktivitas angkatan laut, dan serangan udara yang terjadi di wilayah yang berbatasan langsung dengan wilayah Jepang.
Tanggapan vokal Jepang dan kesediaannya untuk secara terbuka menghubungkan stabilitas Taiwan dengan keamanan nasionalnya sendiri menandai penyimpangan yang signifikan dari sikap menahan diri di masa lalu.
Peristiwa semacam itu menggambarkan pola regional yang lebih luas. Wacana nasionalistik di Asia Timur tidak muncul begitu saja, dan bukan semata-mata produk dari perhitungan politik internal.
Sebaliknya, hal itu mencerminkan proses reaktif di mana kekuatan regional sedang mengkalibrasi ulang identitas, kedaulatan, dan otonomi strategis sebagai respons terhadap sikap Tiongkok yang lebih asertif.
Meskipun Beijing membingkai tindakannya sebagai tindakan defensif dan berakar pada hak-hak historis, perluasan jejak militer dan sinyal paksaan yang diberikannya telah memaksa negara-negara tetangga, dan para pemangku kepentingan politik di negara-negara tersebut, untuk memperkeras posisi mereka, seringkali dengan cara yang memperkuat sentimen nasionalis di dalam negeri.
Insiden yang terus berulang di sekitar Kepulauan Senkaku di Laut Cina Timur dan meningkatnya aktivitas militer Tiongkok di dekat Taiwan telah memicu narasi di Tokyo bahwa lingkungan keamanan lebih buruk daripada kapan pun sejak akhir Perang Dunia Kedua.
Sebagai tanggapan, Jepang telah memulai pergeseran strategis yang signifikan, beralih dari fokus pasca-perang pada pertahanan diri ke postur keamanan proaktif yang mencakup rencana penggandaan anggaran pertahanan menjadi sekitar dua persen dari PDB.