Takdir, antara Pesimis atau Optimis

Foto dokpri penulis
Sumber :
  • vstory

VIVA – Pembahasan mengenai takdir bukanlah sesuatu yang baru di kalangan umat Islam. Dalam dunia Islam sendiri ada berbagai kesimpulan tentang takdir, di antaranya: Manusia berserah diri kepada apa yang terjadi pada dirinya tanpa ada usaha untuk mengubah dari suatu keadaan ke keadaan lain yang lebih baik, karena menganggap semua usaha dan ikhtiar tidak ada gunanya.

img_title Nggusu Waru: Karakter Kepemimpinan Masyarakat Bima

Ada yang berpendapat bahwa ajaran tentang takdir itu membuat orang jadi malas untuk berusaha, karena setelah mempelajari dan mendalami tentang takdir orang menjadi bersifat ‘menanti keuntungan’ saja menunggu nasib baik. Yang sangat berbahaya ketika berhubungan dengan perbuatan manusia, takdir dan ikhtiar dipahami secara salah, sehingga berdampak pada perbuatan yang hanya menuruti hawa nafsunya, berbuat dosa dan maksiat, karena mereka berkeyakinan bahwa perbuatan yang mereka lakukan sudah merupakan takdir dari Tuhan. Dari berbagai kenyataan tersebut, muncul pertanyaan apa sesungguhnya hakikat beriman terhadap takdir serta bagaimana seharusnya pemahaman yang benar terhadap itu.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Risalah Jabariah dan Qadariah adalah dua contoh aliran teologi Islam yang berbeda pendapat dalam menyikapi takdir. Jabariah berpandangan bahwa manusia tidak memiliki kehendak bebas dalam hidupnya dan segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak Allah Swt semata. Pandangan ini cenderung meyakini hidup sudah ditentukan oleh Allah. Namun pada saat yang bersamaan dapat melahirkan prasangka buruk kepada Allah, karena perbuatan maksiat pun merupakan takdir Allah, manusia hanyalah objek dan korban dari takdir Allah.

img_title Diskriminasi Muslim di India, Normalkah?

Sebaliknya, Qadariah berpandangan bahwa Allah memberikan kebebasan pada manusia untuk menentukan jalan hidupnya. Oleh karena itu, apapun yang diperbuat oleh manusia adalah berkat usaha dan kemampuannya sendiri serta tidak ada lagi campur tangan Allah di dalamnya. Pemahaman semacam ini cenderung membuat seseorang bersikap aktif dan bebas dalam menjalani kehidupannya. Tetapi juga melahirkan sikap berlebihan dan tanpa kontrol dalam menjalani hidup karena meniadakan Allah dalam setiap perbuatan manusia.

Berangkat dari dua pemahaman di atas (Jabariah dan Qadariah), dalam berbagai literatur, para ulama dan cendekiawan Muslim menawarkan pemahaman yang lebih tepat serta proporsional mengenai apa itu takdir. Pemahaman terhadap takdir atau yang kita sebut iman terhadap Qadha dan Qadar yaitu bahwa apapun yang terjadi di bumi ini, pasti ada sebabnya, bahkan kematian, rezeki dan jodoh.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
img_title Dinamika Reformasi Arab Saudi: Kasus Konser Musik
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut