Perilaku Konsumen Era Digital: Keranjang Penuh, Tapi Dompet Selamat
- vstory
Kebutuhan versus Keinginan
Media sosial adalah ‘ruang publik’ yang cukup powerful, bagaikan pedang bermata dua di mana di satu sisi dapat menginspirasi, memicu kreatifitas dan meningkatkan produktivitas, tetapi disisi lainnnya dapat juga membentuk gaya hidup yang konsumtif dan overexposure. Paparan tanpa henti yang dilakukan oleh pemasar dapat memicu kebutuhan sekunder yang mungkin awalnya tidak kita sadari. Konten-konten yang muncul baik dari hasil searching kita sendiri ataupun dari algoritma media sosial seringkali menstimulasi keinginan kita pada level sosial (ingin diterima, mengikuti tren) atau bahkan aktualisasi diri (melalui image yang ditampilkan produk). Ditengah guyuran informasi dan promosi ini tidak heran jika kita menjadi lebih impulsif dan mudah untuk menambahkan berbagai produk ke keranjang belanja online.
Kalian pasti pernah saat iseng scrolling layar ponsel tiba-tiba melihat barang yang dipromosikan melalui media sosial seperti Instagram, Facebook atau TikTok, kemudian langsung tergoda untuk membelinya, menambahkannya ke keranjang belanja online, namun akhirnya tidak checkout. Fenomena ini disebut sebagai "cart abandonment", salah satu perilaku konsumen digital yang sangat sering terjadi dan merupakan salah satu tantangan terbesar pagi para pelaku usaha yang menggunakan e-commerce. Cart abandonment terjadi ketika pengguna e-commerce memasukkan barang ke keranjang belanja online tetapi tidak menyelesaikan proses pembelian. Data yang diperoleh dari hasil riset Baymard Institute di tahun 2024 yang dilakukan pada para konsumen e-commerce di Amerika Serikat menunjukan tingkat rata-rata cart abandonment yang cukup tinggi yaitu lebih dari 70?ri transaksi belanja online diberbagai platform. Angka tersebut tentu tidak kecil dan memberi gambaran bagaimana perilaku konsumen digital cenderung impulsif namun tidak selalu berujung pada pembelian, hal ini cukup menjadi perhatian serius bagi para pemasar yang aktif menjual produknya melalui platform e-commerce.
Aktivitas browsing dan memasukkan barang ke keranjang bisa memberikan kesenangan tersendiri, bahkan tanpa ada niatan untuk membeli. Ini seperti 'cuci mata' versi digital, dan dapat dikategorikan menjadi jenis terbaru dari hedonic shopping. Apa sebenernya yang menyebabkan terjadinya perilaku konsumen semacam ini?