Partai Kami Lebih Advance dari Cambridge Analytica
- VIVA/Dhana Kencana
Di luar itu, memang banyak juga yang mendukung, yang membantu kita sebagai partner diskusi. Termasuk, abang-abang kita sebagai senior-senior kita juga banyak memberikan masukan kepada kita.
Tadi Anda katakan ada 11 orang yang bertahan. Siapa saja 11 orang itu?
Ya, sebagian besar yang sekarang ada di DPP. Terus terang yang paling intens adalah saya dan Sekjen. Juga ada beberapa Ketua DPP lain juga yang intens membentuk partai ini. Prosesnya tak mudah untuk mengajak dan meyakinkan teman-teman kita. Pada saat kami datang ke daerah-daerah juga demikian. Misalnya, saya kan punya jaringan teman-teman daerah, Sekjen juga punya jaringan. Kadang-kadang jaringan kita di daerah juga resisten. Mereka menganggap engga mungkin. Hal seperti itu pasti ada saja, selama tiga tahun ini. Dan, kita tetap saja tidak pernah berhenti juga tiga tahun ini, muter keliling daerah.
Anda terjun langsung ke daerah-daerah?
Iya, kami turun langsung. Dan, selama ini memang tidak jadi perhatian media karena memang kita bergerak senyap. Dan, ketika saya ke daerah, juga enggak mungkin saya bawa teman-teman media. Beda, kalau misalnya saya yang punya media.
Anda bilang, ingin memperjuangkan kepentingan rakyat. Bukankah semua partai politik juga memiliki cita-cita yang sama?
Jadi gini, kita ini harus pragmatis terhadap kekuasaan. Karena, memang berjuang di Indonesia itu harus duduk dalam kekuasaan, tidak bisa hanya menjadi kritikus. Seorang doktor atau profesor sekalipun tidak akan bisa hanya melakukan kritik di luar kekuasaan, siapapun yang hanya kritik akhirnya hanya menjadi begitu saja, seperti kafilah berlalu saja. Nah, kita melihat pintu untuk mengubah Indonesia ini paling tidak harus duduk di parlemen. Kami berpendapat, untuk masuk ke parlemen pintu pertamanya adalah partai politik, pintu keduanya adalah harus masuk ke dalam parlemen. Pintu ketiga, tentunya harus masuk ke dalam pemerintahan. Jadi, itu cita-cita kami untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik hanya bisa dilakukan dengan membuat partai politik.
Dari penjelasan itu, sepertinya Anda merasa aspirasi Anda selama ini diabaikan?