Muslihat Kerajaan Abal - abal

Raja Keraton Agung Sejagat, Toto Susanto dan permaisurinya, Fanni Aminadia.
Sumber :
  • VIVAnews/Dwi Royanto

Sosiolog serta Direktur Program dan Riset The Habibie Centre, Hasan Ansori, mengatakan secara sosiologis hal seperti itu seringkali bergandengan antara aspek-aspek persoalan sosial ekonomi yang bertemu dengan memori sejarah.

"Jadi kondisi riil yang men-drive orang munculnya keraton seperti itu adalah persoalan paling mendasar persoalan sosial ekonomi. yaitu kemiskinan, lack of education, kualitas pendidikan yang berkurang, kemudian aspek berbagai fasilitas sosial ekonomi yang berkurang," ujarnya.

Sendang Keraton Agung Sejagat

Sebagai sosiolog, Hasan Anshori melihat berdirinya kerajaan dengan ratusan pengikut itu tak bisa dihilangkan dari kondisi sosial ekonomi masyarakat, Hal semacam itu laku dijual di tempat-tempat dengan kondisi masyarakat yang termarjinalisasi, terbelakang, terisolir diikuti dengan pendidikan yang rendah. Ia merujuk para pengikut kerajaan yang kebanyakan berasal dari kelompok menengah ke bawah.

"Dalam kondisi masyarakat yang seperti itu, orang-orang seperti itu Toto yang masuk dengan menciptakan dan menawarkan janji-janji penyelamatan atau salvation, maka dia seakan-akan datang ingin melihatkan sebagai seorang penyelamat," ujar Hasan.

Hal senada disampaikan Rissawan Lubis. Sosiolog ini juga mengakui, motif ekonomi menjadi alasan mengapa banyak orang memunculkan kerajaan baru dan berhasil mendapatkan pengikut. "Orang  semacam Toto melihat celah untuk menipu, maka dia melakukan itu," ujarnya.

Baik Rissawan maupun Hasan Anshori menolak faktor kejiwaan berpengaruh dalam kasus ini. Menurut keduanya, Toto adalah orang yang sehat jasmani dan rohani. Dalam kasus Kesultanan Agung Sejagat, pasangan Toto dan Fanni justru saling melengkapi. Idenya adalah Toto, tapi manajer dan sutradaranya adalah Fanni, sang ratu.

Rissawan melihat celah yang dimanfaatkan oleh para pendiri kerajaan baru adalah karena lemahnya catatan sejarah negeri ini. Ada dua hal yang menurut Rissawan menjadi celah. Pertama, tidak ada catatan sejarah yang fix, yang dikeluarkan oleh negara sebagai otoritas, yang menyebutkan bahwa catatan sejarah tentang kerajaan tertentu itu apa saja. Kedua adalah korban atau pengikut yang percaya dengan cerita kerajaan yang berkuasa seperti yang disampaikan oleh pelaku.

Pengalihan Isu

Hasan Anshori menolak bahwa kerajaan-kerajaan yang muncul adalah pengalihan isu dari permasalahan negara yang lebih besar yang saat ini sedang dihadapi. "Saya kira terlalu jauh untuk mengaitkannya ke sana. Sebab kita harus punya bukti yang valid yang menunjukkan memang ini ada kaitannya dengan upaya pengalihan isu." ujar Hasan.