Apa Kabar PRD?

Ulang tahun PRD ke-17 pada 22 Juli 2013. Foto: Dokumentasi PRD
Sumber :
  • Dokumentasi PRD

Saat itu target PRD hanya menjadikan Pemilu sebagai panggung. “Kita sangat tahu dengan kekuatan yang sangat kecil agak bermimpi bisa menang Pemilu. Tapi target kita adalah mengisi ruang ruang untuk berbicara pada rakyat,” ujar dia.

“Fase yang cukup berat. Karena antara transisi organisasi yang semula dididik untuk menghancurkan atau melawan Orde Baru tiba tiba reformasi, tiba tiba ikut parlemen, terus politik elektoral. Ada percepatan situasi di luar yang mungkin kita gak bisa memahaminya. Di situlah dinamika organisasi muncul.” 

Dominggus mengamini. Saat itu ada dua pendapat terkait Pemilu. Pertama, PRD sudah harus lepas dengan pola berpolitik yang lama dan harus masuk sistem elektoral. Kedua, situasinya rakyat masih berlawan, masih ada gejolak-gejolak ketidakpuasan terhadap pemerintah. “Ada sebagian kawan yang agak keras, Jogja saat itu paling keras, tidak akan ikuti Pemilu borjuis,” ujar dia.

Kubu yang setuju ikut Pemilu yakin, dengan Pemilu, PRD bisa mengampanyekan program-program PRD seluas-luasnya. Aspek kesadaran dan propaganda lebih penting ketimbang memperoleh kursi. “Oke lah nggak apa-apa kita nggak dapat kursi, tapi bisa propaganda seluas-luasnya,” lanjut Jabo.

Gagal di 1999, PRD mencoba bangkit pada Pemilu 2004 dengan membentuk Popor. “Pada 2004 kita pakai Popor. Karena kita sudah ada kesimpulan, bahwa ini satu-satunya cara, dengan jalan elektoral,” ujar Dominggus.

Meski demikian, keputusan itu masih menyisakan perdebatan. Saat itu mulai muncul gagasan untuk membentuk partai persatuan, dengan front. Popor tidak hanya PRD namun ada serikat buruh, organisasi massa lokal yang yang ambil bagian. “Masalahnya kita memutuskan itu saat sudah mepet, jadi waktu untuk mengonsolidasikan itu terbatas,” ujarnya beralasan.

Kemudian pada Pemilu 2009, PRD mencoba bereksperimen dengan membentuk Papernas. Menurut Dominggus, kali ini persiapannya jauh lebih panjang, yakni mulai sebelum tahun 2007. “Kita sudah adakan pertemuan dengan kawan-kawan organisasi pergerakan. Kita undang banyak organisasi untuk sama-sama menghadapi 2009,” dia menerangkan.

Aksi demonstrasi PRD di Mahkamah Konstitusi pada 10 Desember 2011. Foto: Dokumentasi PRD

Konsolidasi itu berbuah aliansi bernama Konferensi Persatuan Gerakan Rakyat (KPGR). Awalnya, Dominggus yakin aliansi ini akan jadi partai front. Namun, koalisi tersebut kemudian goyah dan akhirnya hanya menyisakan PRD. Akhirnya PRD membentuk Komite Persiapan Partai Persatuan Pembebasan Nasional (KP-Papernas). “Dalam hal gagasan sudah mulai solid. Tetapi soal bagaimana pilihan taktik masih ada perbedaan,” lanjut Dominggus.