Apa Kabar PRD?
- Dokumentasi PRD
“Kariernya” di dunia gerakan diawali saat ia menjadi salah satu jurnalis di Lembaga Pers Mahasiswa Hayam Wuruk, Fakultas Sastra, Undip. Berawal dari kerja-kerja jurnallistik, ia berinteraksi dengan tokoh-tokoh gerakan mahasiswa, buruh, petani, dan sektor lain.
Aktivitasnya berlanjut di Solidaritas Mahasiswa Semarang (SMS), sebuah organisasi mahasiswa yang didirikan untuk melawan Orde Baru (Orba). “Dari situ terjalin lah komunikasi dengan organisasi lain,” ujar ayah dua anak ini mengenang.
Kala itu, selain SMS, sejumlah organisasi di tingkat kampus dan kota banyak bermunculan. Namun, organ-organ itu cenderung sangat sektoral dan kerap berubah-ubah nama dan komite. “Waktu itu cukup banyak gerakan tapi tidak ada satu kesatuan, tidak solid. Jadi setelah aksi ini itu, bubar,” ujar koordinator SMS ini.
Berangkat dari kondisi itu, SMS dan sejumlah organisasi lain memiliki keinginan untuk membentuk sebuah organisasi payung di level nasional dan lintas sektor. Sebelum ke sana, sektor mahasiswa lebih dulu disatukan. Dari sini lah gagasan membentuk SMID berawal.
Hal yang sama disampaikan Ketua Umum PRD Agus ‘Jabo’ Priyono. Menurut dia, jika di Semarang ada SMS, maka di Solo ada Ikatan Mahasiswa Surakarta. “Dalam prosesnya, ikatan-ikatan mahasiswa lokal ini kemudian berinteraksi dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan lainnya dari Semarang, Salatiga, Jogja dalam mengadvokasi kasus-kasus rakyat,” ujar salah satu pendiri PRD ini saat VIVA.co.id berkunjung ke sekretariat PRD di bilangan Tebet, Jakarta Selatan, Rabu, 8 Juni 2016.
Berawal dari kerja-kerja advokasi tersebut, akhirnya mereka sepakat untuk menyatukan kekuatan dan membentuk sebuah organisasi yang lebih besar. “Kita membangun satu jaringan organisasi mahasiswa di tingkat nasional. Kemudian ada konsolidasi-konsolidasi, itu yang kemudian jadi SMID,” ujar mantan pimpinan SMID Solo itu.
Organisasi gerakan mahasiswa ini tak hanya bergerak di lingkungan kampus, namun juga terlibat dalam pengorganisasian petani dan advokasi buruh. Dari proses tersebut, organisasi-organisasi ini kemudian menjadi satu organisasi multi sektor di tingkat kota.
Hal ini memperkuat jaringan nasional, karena tidak hanya melibatkan mahasiswa di tingkat lokal tapi juga mahasiswa di kota lain. “Nah itulah yang kemudian kita sepakat membangun PRD, yang pertama kita namakan Persatuan Rakyat Demokratik.”