Apa Kabar PRD?

Ulang tahun PRD ke-17 pada 22 Juli 2013. Foto: Dokumentasi PRD
Sumber :
  • Dokumentasi PRD

Sayangnya, mereka tak bisa lolos verifikasi. Akhirnya muncul gagasan untuk menggunakan partai yang sudah ada, partai yang sudah lolos verifikasi.

Waktu itu sudah ada gagasan untuk menyatukan tiga partai, yaitu PRD, Partai Pelopor dan Partai Bintang Reformasi (PBR). Namun, dalam perjalanannya, Pelopor menarik diri, tinggal PRD dan PBR.

“Kader-kader PRD diakomodasi ke dalam PBR dan nyaleg dari PBR. Karena PBR nggak lolos “electoral threshold” dan juga perhitungan kita banyak yang meleset, proses dengan PBR pun berakhir setelah Pemilu.”

Namun, keputusan berkoalisi dengan PBR ini menyisakan konflik di internal organisasi. “Ya cukup besar. Karena beberapa tokoh pendiri keluar, tidak mau memimpin lagi. Setelah Persatuan, ini bisa dibilang satu perpecahan besar,” ujar Jabo.

Sementara pada Pemilu 2014, sesuai amanat kongres ke-7, PRD memilih tak ikut Pemilu secara mandiri namun mendelegasikan kader-kadernya untuk ikut Pemilu melalui partai-partai yang sudah mapan. “Keputusannya PRD bergabung dengan partai nonSetgab, waktu itu ada Hanura, PDIP dan Gerindra. Makanya kita bergabung dengan ketiga parpol itu, dengan mengirim kader-kader ke sana.”

Perubahan Asas

Selain memutuskan untuk ikut Pemilu melalui partai yang sudah mapan, kongres ke-7 juga memutuskan untuk mengubah asas organisasi dari Sosialis menjadi Pancasila. “Sebelumnya kan Sosdemkra, sosial demokrasi kerakyatan, kemudian Pancasila. Keputusan itu sekitar tahun 2010, itu melalui perdebatan situasi riil Indonesia,” ujar Dominggus.

Jabo menambahkan, selama ini bangsa Indonesia mengidentifikasi Pancasila dengan Orba. Menurut dia, Pancasila itu yang menggali Presiden Soekarno. “Kalau kita tidak menggali konteks sejarahnya, kita tidak akan mengerti. Kalau kita tidak memahami pandangan-pandangan tokoh yang menggali Pancasila, Pancasila itu tidak akan ketemu,” dia menjelaskan.

Menurut dia, Pancasila itu satu filosofi bangsa Indonesia yang tinggi untuk menghadapi imperialisme dan membangun bangsa. “Kita harus menggunakan spirit tokoh bangsa kita sendiri untuk melawan imperialisme. Seperti Chavez menggunakan Simon Bolivar sebagai simbol untuk menghadapi imperialis. Kira-kira pandangan PRD seperti itu,” ujarnya.

Jabo membantah perubahan asas tersebut memicu perpecahan di PRD. Ia berdalih, perubahan asas ada di Kongres 2010, sementara perpecahan terjadi pasca Kongres ke-6.