Membawa Tenun ke Ranah Terhormat
- VIVA.co.id/Bimo Aria
Sekarang bagaimana kehidupan penenunnya?
Melahirkan harga diri, dan menjadi kebanggaan karena mereka punya kebebasan ekonomi. Saya terus terang enggak mikir begitu, saya mikir mereka dapat penghasilan lebih teratur yang memang bukan penghasilan satu-satunya karena mereka juga punya sawah, mereka punya babi dan kerbau untuk dijual.
Ini membuat harga diri mereka kembali karena kebanyakan juga ada yang kerja merantau jadi pembantu, pekerja seks atau lainnya, tapi kalau menenun, mereka bisa tinggal dengan keluarga, harga diri mereka kembali. Itu sesuai dengan social enterprise. Bahkan di Toraja, banyak TKW yang akhirnya pulang untuk menenun.
Penenun saat ini usianya berapa?
Dulu tua-tua, sekarang anak umur 12 tahun sudah bisa menenun. Tadinya malu, sekarang mereka bangga. Ada yang membiayai sekolah dengan menenun sampai diundang untuk bicara ke Jakarta, sehingga banyak anak-anak yang tertarik ikutan menenun. Itu prestige buat mereka.
Apakah tidak muncul anggapan mengeksploitasi anak?
Ada komentar seperti itu tapi jawabnya cukup mudah walaupun kadang marah juga. This is part of the culture, kami bukan memperbudak anak-anak, dan kami tidak menyuruh tapi anak-anaknya minta. Mereka melihat tantenya dan mamanya menenun, lalu ingin juga dan mereka mengerjakannya sesuka mereka. Karena tenun itu seperti bahasa, mereka harus belajar dari kecil, tidak bisa tiba-tiba, kalau sudah umur 25 tahun baru menenun itu susah. Jadi itu salah satu melawan pola berpikir begitu, ini budaya kok.
Bagaimana menyeimbangkan kesejahteraan penenun sekaligus menjalankan bisnis?
Itu berat sekali, dalam arti waktu awal kami harus membeli tenun selama mereka latihan, kami bayar terus. Dan orang Indonesia ada yang bilang tenun kenapa mahal, padahal buatan Indonesia.
Akhirnya kami harus tetap bekerja dengan partner di Singapura. Mereka mengubah pandangan pasar untuk menjadi conscious consumer atau konsumer yang punya kesadaran. Jadi kalau ada Toraja Melo di sebelah Zara, dan Toraja Melo lebih mahal, mereka akan tetap milih Toraja Melo karena di belakangnya ada cerita dan bukan pabrikan. Termasuk pameran ini untuk memperlihatkan ada tenun macam-macam dan itu kekuatan Indonesia. Yang membedakan negeri ini dengan negara lain, ya kekayaan alamnya.