Membawa Tenun ke Ranah Terhormat

Founder dan CEO Toraja Melo
Sumber :
  • VIVA.co.id/Bimo Aria

Tapi penenun enggak mau mengerjakan. Saya bujuk satu mama (penenun) sampai enam bulan dan tetap tidak mau karena menurutnya jelek. Buat dia suasana hati penting ketika menenun. Tapi waktu jadi, saya mau ambil, ternyata sudah dikasih ke orang lain karena dia butuh uang. Itu salah satu tantangan kami. Jadi kalau kami pesan, ketika mereka membuatnya maka harus dibeli. Nah, itu juga tantangan kami dengan cash flow.

Jumlah Penenun Meningkat Pesat

Total penenun sekarang ini berapa jumlahnya?

Ada sekitar 1.000 penenun, harusnya sih lebih luas komunitasnya di empat daerah. Sebagian besar sudah kami latih dan menenun untuk kami. Jadi kami kasih penguatan ke mereka.

Proses pembuatan tenun berapa lama?

Macam-macam, paling cepat itu kalau pakai benang pabrik dan warna chemical seminggu sampai tiga minggu. Panjang kainnya 3,5 meter, Toraja dan Mamasa standar 3,5 meter, tapi Mamasa ada yang 10 meter. Di Lembata bisa berbulan-bulan. Semua daerah berbeda-beda, tapi range-nya segitu.

Ketika ini jadi industri, bagaimana penenun punya otoritas atas tubuhnya dan tidak seperti mesin?

Kami selalu memberikan kebebasan. Kami tidak  pernah bilang kami desain sendiri. Mereka itu desainer, mereka itu artisnya. Kami hanya memberikan color skin, tapi jadinya seperti apa tergantung selera dan kerja mereka, sehingga tidak ada tenun yang benar-benar sama. Kami ingin tenun menjadi produk yang mahal banget karena cuma ada satu.

Kisaran harga kain tenun berapa?

Sampai saat ini belum jual yang kain lembaran, kebanyakan yang sudah jadi produk karena kami ingin memberikan nilai tambah. Tapi mulai akhir tahun  dan awal tahun depan, kami ingin menjual kainnya saja. 

Sementara produk tenun saat ini, seperti fesyen, gift, cenderamata. Kalau aksesori kalung mulai Rp230 ribuan; gift Rp60 ribuan, ada pouch; kemudian ada wedding souvenir pakai frame Rp300 ribu; baju paling murah Rp300 ribu dan paling mahal Rp1,3 juta. Harganya masih terjangkau, bahkan ada yang bilang kemurahan.

Bagaimana dengan pemasarannya?

Pemasarannya dalam 10 tahun terakhir sudah ke mana-mana, yakni Amerika, Eropa, Asia. Tahun ini, kami ingin fokus ke Indonesia, tapi diajak ke Seibu Jepang. Jadi sampai awal 2019, produk Toraja Melo ada di Seibu Jepang.