Roy Kiyoshi Bongkar Karma Buruk Pelakor

Roy Kiyoshi, KARMA ANTV
Sumber :
  • VIVA.co.id/Syahrino Putama

VIVA – Dalam program Karma episode 94 yang disiarkan ANTV pada 18 April 2018, Roy Kiyoshi kehadiran seorang partisipan yang kerap melakukan hal-hal jahat. Nur terlahir dari keluarga yang berantakan dan memendam kekecewaan kepada laki-laki karena ayahnya.

Bukan hanya itu, Roy Kiyoshi juga membeberkan bahwa partisipan yang lahir di tanggal 10 bulan 11 tersebut sering berhubungan dengan suami orang alias pelakor.  

“Kamu 100 persen adalah perawat laki orang. Selain itu masih banyak hal-hal yang lebih buruk yang kamu lakukan,” kata Roy Kiyoshi.

Partisipan juga membenarkan bahwa dirinya punya kecenderungan ketika kesal akan mengamuk ke orang terdekat. Termasuk melontarkan makian kepada ibu kandungnya.

“Iya benar. Sama anak kandung pun suka gitu, aku suka aniaya dia kalau enggak sadar. Sudahannya nangis sambil peluk,” ujarnya.

Tidak lama, partisipan mengeluarkan bedak dan parfum yang sudah dijampi-jampi dan kerap menggunakannya supaya terlihat cantik. Kemudian Roy Kiyoshi melakukan ritual simbolis agar partisipan dapat meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruknya.

“Semoga semua kembali ke asalnya tidak ada lagi penderitaan. Apa yang ditanam, apa yang ditabur. Semuanya hilang dan tidak ada lagi yang melekat ke wajahnya,” ujar Roy, kemudian meniupkan bedak ke arah partisipan dan membuang parfum.

Paranormal indigo tersebut berharap partisipan dapat menjadi pribadi yang baik lebih baik. Selain itu, juga berbuat baik kepada ibunya.

“Semoga kamu bisa berubah jadi baik ya. Saya pengin banget setelah dibuyarkan secara simbolik tidak boleh ada kata-kata kasar lagi terhadap ibu kandung,” pesan Roy.

Dia pun berharap agar wanita itu menjadi ibu yang baik bagi anaknya. Roy meminta jangan lagi memukuli anaknya, sebab seorang anak kecil merekam memori yang akan dibawa ketika dewasa.

Mengenai masalah amarah yang mudah meledak, Roy menyarankan partisipan memeriksakan diri ke ahlinya. Hal itu demi kebaikan dirinya dan orang-orang di sekitarnya.

“Saya sarankan kamu sekali lagi untuk ke psikiater bertanya apa yang terbaik untuk kamu. Kalau memang harus ditangani menggunakan antidepresan silakan. Jangan sampai ada korban perasaan berikutnya,” ujar Roy Kiyoshi.