Perang Dagang AS-China dan Peluang Investasi

Pergerakan IHSG (Foto ilustrasi)
Sumber :
  • VIVAnews/M Ali Wafa

VIVA – Bank Dunia berulang kali memperingatkan dampak perang dagang Amerika Serikat dan China terhadap perlambatan ekonomi global. Lalu, bagaimana dampaknya terhadap perekonomian Indonesia?

img_title Warga AS Terancam Tak Bisa Cebok akibat Washington Perang Dagang sama Kanada

Analisis PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, menyebut, jika ekonomi dunia melemah, permintaan komoditas secara global akan berkurang. Indonesia sebagai negara pengekspor komoditas tentu akan terkena dampaknya, dan pada akhirnya perekonomian Indonesia juga ikut melemah. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

"Data aktivitas domestik, -penjualan mobil, semen, properti dan sektor manufaktur- terlihat mengalami perlambatan, walaupun memang penyebab perlambatan tersebut bukan disebabkan faktor eksternal saja, namun ada juga peranan faktor internal," kata Senior Portofolio Manager Equity PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Samuel Kesuma, dalam analisis itu seperti dikutip VIVAnews, Senin 14 Oktober 2019. 

img_title Ekonomi Tidak Baik-baik Saja di 2026

Menurut dia, langkah pemerintah terus melakukan berbagai upaya pembangunan hard and soft infrastructure sudah tepat. Tujuannya adalah peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan pertumbuhan ekonomi guna meningkatkan daya tarik serta daya saing Indonesia di antara negara kawasan, lewat meningkatnya investasi dan mengurangi ketergantungan akan ekspor komoditas mentah.

Konflik dan negosiasi dagang Amerika Serikat-China yang sudah berlangsung hampir dua tahun, menurut dia, belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Meskipun episode baru eskalasi konflik dagang antara Amerika Serikat dan China terus terjadi, Manulife melihat perubahan dalam dinamika bilateral telah terjadi. 

img_title IHSG Ambruk Lebih dari 2 Persen, Saham UNTR hingga CPIN Cerah

"Dapat dikatakan saat ini pemerintah China berada dalam posisi tawar yang lebih unggul untuk memutuskan arah dan persyaratan perdagangan," tuturnya. 

Samuel menambahkan, kondisi AS saat ini sangat berbeda jika dibandingkan dengan ketika pertama kali pertikaian dagang muncul pada 2018. Saat itu, AS terlihat lebih mendominasi dengan ekonomi yang lebih kuat dan pasar keuangan yang lebih solid. 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Saat ini, dia melanjutkan, perekonomian AS mulai melambat, pasar keuangan melemah, tekanan terhadap Presiden AS Donald Trump juga meningkat mendekati Pemilu 2020 dan ruang penambahan tarif juga lebih terbatas.

Selama ini, Samuel melanjutkan, Presiden Trump terus menyatakan keunggulan dan kekuatan posisi dalam negosiasi konflik dagang, faktanya beberapa sektor ekonomi di AS mengalami tekanan. Di antaranya, ekspor yang turun ke China maupun ke negara lain, kontraksi pada sektor manufaktur, hingga melambatnya penyerapan tenaga kerja. 

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut