Saya Orang Kampung, Tak Punya Baju Bagus

Kasdi dan keluarganya mencari keadilan
Kasdi dan keluarganya mencari keadilan
Sumber :
  • VIVAnews/Puspita

VIVAnews - Kasdi, 52 tahun, tinggal di Demak, Jawa Tengah. Mata pencahariannya cuma menangkap ikan sepat atau betik di rawa. "Dari hasil menangkap ikan itu, saya paling besar dapat Rp50 ribu," ujar Kasdi kepada wartawan VIVAnews di YLBHI, Jakarta, Kamis 13 November 2012.

Meski begitu, tekadnya mencari keadilan tak sekecil ukuran ikan betik yang biasa dia tangkap.

Anak sulung Kasdi, Sarmidi (24 tahun), saat ini dibui di LP Kedung Pane, Semarang. Kasdi hakulyakin anaknya itu sebetulnya cuma korban rekayasa seorang petugas polisi. Dia dijebak lalu dituduh jadi pengedar narkoba. Sarmidi ditangkap 12 Desember 2011 dan oleh hakim Pengadilan Negeri Semarang divonis lima tahun penjara. Di mata Kasdi hukuman ini sangat tidak adil, karena menurut dia Sarmidi tak pernah melakukan kejahatan itu.

Karena itulah, Kamis, 13 Desember lalu, setelah upayanya di Semarang kandas, dia nekat mendatangi gedung Mahkamah Agung di Jakarta. Malangnya, di lembaga hukum tertinggi ini, dia diusir petugas satuan keamanan. Alasannya, karena dia datang cuma pakai sandal jepit. 

Berikut petikan wawancara VIVAnews dengan nelayan lugu tapi gigih ini.

Bagaimana Sarmidi bisa terlibat kasus narkoba?

Awalnya, anak saya yang kerja di perusahaan pemotongan kayu itu kenalan sama Triyono. Mereka berkenalan di batas kota saat acara Tahun Baru Hijriah.

Di daerah saya itu (Demak) ada budaya kelurin, tumpengan kalau Tahun Baru Hijriah. Orang-orang dari kampung pada datang. Disitu lah Sarmidi kenalan sama Triyono alias Eblek.

Beberapa minggu kemudian, Sarmidi dikenalkan Triyono ke temannya yang lain yaitu AAN alias Ompong alias Kentos. Dia diajak bertemu di sebuah SPBU di Semarang.

Ternyata, AAN itu salah satu anggota polisi yang sering keluar masuk tahanan karena kasus narkoba. Waktu itu Sarmidi belum tahu bahwa AAN adalah polisi.

Setelah Sarmidi dan AAN ngobrol beberapa lama, Triyono meninggalkan mereka. Kemudian AAN menyuruh Sarmidi membeli ganja. Anak saya tidak mau. Sarmidi terus dipaksa sambil diberi uang Rp120 ribu. Akhirnya, ia mau juga dan mereka jalan ke suatu tempat untuk membeli ganja naik motor berboncengan.

Setelah ganja itu dibeli akhirnya mereka kembali ke tempat semula. Sampai di SPBU semula, Sarmidi memberikan ganja yang telah mereka beli ke AAN. Tapi, AAN tidak mau menerimanya, malah menyuruh menyimpannya berikut uang kembaliannya.