- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
![]()
(Kondisi bagian dalam KBRI Sana'a usai terkena dampak pengeboman sebuah depot senjata milik kelompok Al-Houthi. Foto: Antara)
Apakah menurut Anda aksi pengeboman yang berdampak ke KBRI Sana'a dilakukan oleh koalisi militer Saudi?
Kami tidak tahu. Sampai sekarang kami masih meminta ke Pemerintah Yaman, sementara Kementerian Luar Negeri RI meminta klarifikasi kepada Kedutaan Besar Yaman dan Saudi di Jakarta.
Kemudian KBRI Riyadh juga meminta klarifikasi ke Kemlu Saudi. Semoga suatu ketika ada jawabannya.
Tetapi, bukan kah sudah jelas pelakunya ketika Pemerintah Saudi bersedia mengganti rugi kerusakan KBRI di Sana'a?
Menurut juru bicara Kemlu RI, dan menjanjikan akan menyampaikan hal tersebut ke pemerintah di Riyadh. Saya kira dengan menyampaikan hal itu ke pemerintah di Riyadh belum menyimpulkan bahwa mereka lah pelakunya.
Gedung KBRI di Sana'a merupakan gedung sewa. Yang perlu kami catat kembali adalah aset milik negara yang masih bisa dimanfaatkan. Pengamatan sementara, banyak yang rusak. Tetapi, apa pun karena itu milik negara, kami akan melakukan pencatatan kembali pada saat waktunya memungkinkan. Untuk saat ini belum memungkinkan.
Sementara, terkait dengan dokumen, saya telah meminta kepada petugas dokumentasi di KBRI untuk mengamankan dokumen. Saat itu, saya meminta dua hari sebelum operasional KBRI Sana'a dipindahkan, dokumen telah diamankan. Jika dokumen tersebut tersedia dalam bentuk hard copy, maka dipindahkan ke soft copy, sementara bentuk fisik dokumen dibakar.
Alhamdulilah, semua sudah berhasil disimpan semua.
Menurut Anda, apakah situasi peperangan di Yaman akan berlangsung lama atau mereda?
Saya kira sulit untuk memprediksi situasi yang ada di Yaman. Termasuk orang Yaman sendiri. Sifat dalam konflik itu sangat rumit. Saudi menyerang dari udara, sementara Al-Houthi bersiap-siap di darat. Kapan akan selesainya konflik senjata dan beralih ke meja perundingan untuk sementara waktu sulit diprediksi sampai kapan. Bahkan, saya pun selaku Dubes sulit untuk memprediksi.