- VIVA.co.id/Ikhwan Yanuar
![]()
(Para pendukung kelompok milisi Al-Houthi tengah melepaskan tembakan ke udara. Foto: Reuters)
Beberapa waktu lalu, sempat ada serangan koalisi Saudi yang melukai puluhan orang di kota Aden. Apakah masih ada WNI di sana?
Masih ada. Bahkan itu adalah person in contact saya. Namanya Alwi yang mengurusi puluhan WNI. Saya tidak tahu persis alasannya, tetapi dia memilih untuk tetap tinggal di sana.
Alwi termasuk relawan dan tim pendataan di Aden. Menurut data yang dia pegang, selain Alwi, masih ada tiga WNI lagi. Ketiga WNI itu adalah Pak Lutfi dan kedua anaknya. Istrinya warga lokal.
Pak Lutfi bekerja di bandara. Beliau bukan pelajar. Saya yakin Beliau memilih untuk berada di sana, karena ingin berada dekat keluarga.
Kami tidak menerima laporan dalam serangan koalisi kemarin menyebabkan WNI meninggal atau terluka. Semoga tidak ada.
Bagaimana cara WNI yang berprofesi TKI juga bisa berada di Yaman?
Mereka semua bisa masuk ke Yaman karena melalui prosedur yang tak legal. KBRI juga sulit mencegah agar tak ada TKI ilegal masuk ke Yaman. Sebab, tetap ada yang mengirim dari Indonesia dan ada yang menerima di Yaman. Semuanya di luar koordinasi dari KBRI. Sementara, yang pernah mendaftar ke KBRI, kami pantau terus.
Tetapi, dari kejadian ini, kami mengetahui ternyata banyak yang tak melapor. Setelah kejadian ini, baru diketahui ada WNI di beberapa lokasi.
Alhasil saya putuskan, kami bawa keluar semua selama mereka WNI. Hanya saja ada beberapa yang mengalami masalah dengan majikan. Masih ada beberapa dari TKI yang terikat kontrak.
Kami tanya kembali si majikan, apakah mereka bersedia bertanggung jawab jika terjadi sesuatu kepada mereka dalam situasi perang seperti saat ini? Jangan tidak berani bertanggung jawab, maka jangan berbicara mengenai kontrak.
Selain itu, kami juga berkoordinasi dengan konsuler di Kemlu Yaman bahwa ada WNI yang masih tercatat bekerja dengan majikan ini. Kami meminta agar dibantu untuk dilepaskan.
Hubungan antara orang Yaman dengan Indonesia sangat dekat, sudah seperti keluarga. Saya duga semula dibuat seperti kunjungan keluarga, tetapi pada kenyataannya mereka dipekerjakan.
Untuk mencegah itu, paling tidak saya mulai dari KBRI. Saya satukan visi dengan seluruh staf, kami jangan sekali-sekali memfasilitasi keinginan seperti itu.
Pesan ini, saya minta untuk disampaikan kepada keluarga seperti istri para staf hingga ke asisten rumah tangga. Jangan sampai ada kesepakatan di belakang layar untuk memenuhi permintaan semacam ini.
Adakah TKI yang bekerja di Yaman mengalami permasalahan seperti gaji tidak dibayar atau mengalami kekerasan fisik?
Ada juga TKI yang menginap di KBRI Sana'a. Tetapi, jika dibandingkan dengan KBRI di negara di sekitar Yaman, justru jauh lebih kecil.
Tidak banyaknya itu misalnya minggu ini datang satu TKI, lalu kami tuntaskan dalam waktu tiga minggu. Kemudian, bulan depan datang kembali. Alhamdulilah, tidak terlalu banyak. Di selter KBRI isinya ada 12 tempat tidur. Itu pun tidak pernah penuh. Kami berharap jangan sampai penuh.