- VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi
Ada juga WNI yang sebenarnya telah beralih kewarganegaraan namun karena bencana gempa ini, dia menjadi sebatang kara. Akhirnya dia kembali ke Indonesia.
Sama seperti orang asing lainnya, siapa pun bisa berkunjung ke Indonesia, jadi dia membutuhkan visa dan dokumen lainnya.
Bagaimana upaya pencarian terhadap tiga pendaki asal Bandung dan apakah ada petunjuk lainnya yang ditemukan?
Sejauh ini belum ada. Mungkin publik sudah mengetahui kartu identitas seorang WNI bernama Alma ditemukan oleh tim SAR Spanyol. Indonesia kan tidak mengirimkan tim SAR.
Identitas itu ditemukan di area Langtang dan dibawa turun ke Kathmandu lalu diserahkan ke otoritas setempat. Oleh mereka, lalu ditumpuk begitu saja. Alhamdulilah, karena kita aktif dan menyisir rumah sakit hampir setiap hari, kami berhasil menemukan petunjuk.
Ada tiga tim yang setiap hari kami sebar untuk berkunjung ke tiga titik. Saat ada petunjuk identitas itu, kami juga bertanya kepada tim SAR yang menemukan. Mereka menyebut identitas itu ditemukan di area Langtang.
![]()
(Kartu SIM salah satu pendaki asal Bandung, Alma Parahita yang ditemukan tim SAR Spanyol di Langtang, Nepal. Foto: Kementerian Luar Negeri RI)
Melihat kondisi area Langtang saat ini, apakah ada peluang untuk selamat?
Saya tidak tahu dan belum berani menyimpulkan. Dengan ditemukannya identitas Alma, maka saya memutuskan untuk melihat sendiri lokasi tersebut. Saya menggunakan helikopter untuk meninjau area Langtang di ketinggian 3.400 meter di atas laut. Tujuannya untuk memastikan area tersebut.
Bersama saya, turut serta tim dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tim Paskas, satu jurnalis, tim dari Taruna Hiking Club (asal tiga pendaki Bandung) dan satu orang dari Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri RI.
Saya ingin melakukan maksimal dari yang saya perbuat untuk membuat tenang keluarga dan masyarakat. Ketika tiba di lokasi, memang semuanya sudah berada di longsoran. Sudah tidak tersisa apa pun di bagian atas.
Ketika itu saya berdiri di atas permukaan tanah yang masih empuk dan di bawahnya es. Jadi, kalau longsor terjadi, maka saljunya dulu yang turun kemudian disusul dengan tanah dan batu. Ketika tiba di bawah, maka saljunya berada di bawah.
Dari penglihatan di lapangan dan pengetahuan sedikit yang dimiliki, longsoran tersebut termasuk dahsyat. Kita bisa bandingkan jika longsoran di daerah Pengalengan saja bisa mengambil korban jiwa, maka apalagi yang terjadi di Nepal.
Tetapi, saya tidak bisa menyimpulkan ketiga pendaki tersebut ikut tertimbun di bawah, sebab tak ada saksi dan data. Salah seorang saksi memang mengatakan pernah bertemu dengan salah satu di antara tiga pendaki sehari sebelumnya yakni tanggal 24 April.