Duta Besar RI, Iwan Wiranataatmadja

Berharap Mukjizat di Nepal

Duta Besar RI untuk Bangladesh dan Nepal, Iwan Wiranataatmadja
Sumber :
  • VIVA.co.id/Anhar Rizki Affandi

Sementara, di saat bersamaan, Tiongkok telah tiba lebih dulu. Sama seperti Indonesia, Nepal hanya mengakui prinsip "One China Policy."

Tapi dalam konteks bantuan non negara, ada juga yang berhasil masuk ke Nepal. Jadi LSM asal Taiwan yang tak membawa bendera pemerintah diizinkan untuk masuk.

Sementara terkait dengan bantuan yang diberikan oleh Amerika Serikat, Pemerintah Nepal tak memiliki kapasitas untuk melayani mereka. Terlebih saya lihat sendiri AS membawa peralatan yang lengkap.

img_title Puing Helikopter AS yang Hilang di Nepal Ditemukan

Peralatan yang mereka bawa tidak hanya canggih, tetapi jika dioperasikan di daerah rawan, justru malah akan menimbulkan bencana baru.

Akhirnya Pemerintah Nepal mengatakan: "kami tak memerlukan peralatan itu". Yang dibutuhkan oleh Nepal, adalah helikopter biasa. Itulah yang AS kirim. Sementara, helikopter reaptor itu hanya diparkir di bandara, sebab tidak sesuai dengan kondisi alam, ground handlingnya tak memungkinkan walaupun telah diurus sendiri oleh teknisi dari AS.

Bagaimana respons Pemerintah Nepal dari menerima bantuan Indonesia?

Mereka welcome dari awal sampai akhir. Tim dari Indonesia merupakan salah satu tim yang diapresiasi oleh Pemerintah Nepal, karena terlihat bertugas all out. Seperti misalnya rumah sakit lapangan yang didirikan Indonesia. Di hari pertama di tanggal 30 April saja sudah diantri oleh 421 pasien.

Sementara, saya tiba di sana pada tanggal 28 April menggunakan pesawat dari TNI Angkatan Udara. Pesawat komersial saat itu sudah sulit untuk mendarat.

Di udara saja, ketika saya ingin mendarat, harus satu demi satu. Sehingga puluhan pesawat mengantri di udara, sebab bandaranya kecil.

Gempa besar yang terjadi di Nepal sesungguhnya sudah diprediksi oleh ahli sains akan terjadi. Apakah sempat ada himbauan kepada para WNI yang dikeluarkan oleh KBRI Dakka terkait kemungkinan gempa saat itu?

Kalau saya tahu akan ada gempa tentu KBRI akan mengeluarkan himbauan. Tetapi hingga kemarin tidak ada informasi demikian.

Apakah kekuatan gempa di Nepal ikut terasa hingga ke Dakka, Bangladesh?

Gempa kedua yang berkekuatan 7,4 skala richter iya. Di gempa yang pertama saya tidak aware. Saya mendengar di Bangladesh juga terasa tetapi tidak di Dhakka. 

Tetapi, untuk gempa kedua, terasa kuat, karena staf kami di KBRI, mereka semua turun dan mengungsi. Mereka langsung menghubungi. Saya katakan, saya baru turun dari kamar karena memang sangat kuat gempanya.

Di saat yang bersamaan pada tanggal 15 Mei itu, sedikitnya tercatat 22 kali gempa susulan. Ada yang terasa dan ada yang goyang-goyang.

Ketika gempa kedua terjadi, saat itu saya tengah mandi. Mereka itu berpendapat, karena berdasarkan kejadian gempa pertama, gempa kedua berlangsung sekitar pukul 12.00 waktu setempat. Jadi saya mandi saja. Begitu selesai, saya melihat cermin bergoyang. Wah, saya kaget.

Keluar dari kamar mandi, semua orang merasa heboh. Saya sampai terpleset. Kami saat itu sedang berada di base camp di Kathmandu Guest House. Setelah gempa kedua, kami pindah ke Part Village, sekitar 9 kilometer dari pusat kota.

Kami memutuskan pindah ke sana, karena bentuk rumahnya cottage dan terdapat lapangan. Beberapa kawan yang telah mengalami gempa besar sebelumnya, enggan beristirahat di dalam kamar, karena takut tertimpa reruntuhan bangunan, sehingga mereka memilih untuk tidur di area terbuka.

Sebelumnya, pada tanggal 15 Mei, tujuh orang WNI yang merupakan bagian dari tim nyaris terjebak ketika gempa kedua terjadi. Mereka tengah makan di satu rumah makan di lantai tiga di area dekat guest house.

Area makannya itu sempit dan tangganya hanya cukup dimuati satu orang. Sehingga mereka terpaksa berebut turun dengan penghuni lainnya. Jadi, pengalaman yang mereka alami lebih buruk dari saya. Saya saja yang mengalami, ikut trauma.

Sebelum gempa terjadi, banyak kah WNI yang berkunjung ke Nepal setiap tahun?

Kemarin saja ketika gempa terjadi, kami mencatat ada 66 orang. Data tersebut kami peroleh dari berbagai macam sumber. 

Bahkan, sesudah gempa pun masih ada WNI yang mendaki ke Gunung Everest.

Apakah mereka tidak takut akan kembali terjadi longsor?

Itulah perkaranya. Kan saya juga tidak bisa melarang. Mendaki Gunung Everest merupakan tujuan akhir sama seperti ketika orang ingin naik haji. Itu merupakan gunung paling tinggi di dunia.

Untuk bisa mendaki Gunung Everest dibutuhkan biaya yang tak murah. Harus membuat pengaturan rencana, mengumpulkan dana, dan semua rencana itu harus tepat. Mereka juga harus memiliki izin dan membuat pengaturan.

Para WNI sudah merancang itu sejak lama, sementara saya tak bisa melarang. Itu yang saya tahu. Yang saya tak tahu, tiba-tiba sudah melapor dan berada di atas Gunung Everest.

Saya bisa mengetahui hal itu, karena mereka telah tiba kembali di Indonesia. Jadi, para WNI ini melapor di konsulat kehormatan di Nepal. Kami lalu menelepon. Mereka melapor dalam keadaan baik dan berada di titik koordinat sekian. 

Mereka naik dari trek Ananpura dekat Pokara. Dua orang itu berjenis kelamin laki-laki. Informasi ini awalnya hanya dari mulut ke mulut saja. Memang sulit untuk melacak ini.

Dengan mereka terlacak, kami bisa melindungi. Tugas kami ini kan untuk melindungi, sementara, bagaimana mungkin kami bisa melindungi jika kami tidak tahu di mana keberadaan mereka saat ini. Oleh sebab itu, kami berharap para WNI ini bisa melapor kalau tiba di Nepal. Sayangnya, jarang yang melakukan hal itu.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut