'Berantas Terorisme, Jangan Seperti Nguber Layangan'
- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Sebaiknya bagaimana pemerintah?
Itu yang tadi saya katakan. Kalau kita kembali kepada penanggulangan terorisme, kita jangan reaktif. Bedah dululah, evaluasi dulu. Ini persoalannya ada di mana? Ya kan. BIN udah lakukan deteksi dini, peringatan dini, kejadian disalahin. BIN nangkap orang, orang mau menyerah, disalahin. Inikan lucu jadinya. BIN gimana sih ini. Coba lihat dari kejauhan.
Harus ada ketegasan leadership ya, kalau sudah amnesti segera lakukan?
Jangan sampai nanti, misalnya, BIN gitu ya karena capek gitu ngurusin koordinasi. Udah minta tambahan kewenangan nahan, minta tambahan kewenangan mengadili, minta tambahan kewenangan bisa memberikan amnesti, maksudnya biar selesai di satu pintulah. Lho, itu terjadi di Republik ini, dalam konteks pemberantasan korupsi. Ya kan.
Dalam konteks pemberantasan korupsi, kita memunculkan satu institusi di mana kewenangan beberapa pihak yang mestinya bisa dikoordinasikan, kan kita ambil, kita gabung (dalam satu institusi). Ya kan. Intelijen KPK ada, penegakan hukumnya ada, sampai pengadilannya ada. Tapi pertanyaannya, ketika kita munculkan lembaga yang semua kewenangan, kecuali kewenangan Tuhan, dia punya, selesai nggak urusan?
Dan yang kedua, ada problem nggak kemudian dengan institusi penegak hukum yang lain? (konflik dengan Polri), iya kan. Dan itu KPK-nya nggak merasa tunduk pada Presiden karena dia lembaga independen. Matilah kita.
Jadi itu yang saya katakan. Makanya saya katakan, sudahlah, pemerintah duduk bersama, kaji dulu secara komprehensif, nggak usah reaktif. DPR juga begitu, lakukan kajian sama-sama, jadi kita coba menyelesaikan masalah itu dengan akal sehat, tenang.
Mengenai persoalan WNI atau TKI ilegal di luar negeri? Biasanya mereka dideportasi atau diusir dari negeri orang. Apa solusi DPR untuk mereka?
Persoalan TKI kita di luar negeri ini harus kita pahami dulu potret persoalannya secara komprehensif dari hulu ke hilir. Penyelesaian secara sektoral nggak akan tuntas. Sekarang kita punya sekitar hampir 4 juta migran worker kita di luar negeri dan mayoritasnya adalah orang-orang yang bekerja di sektor informal. Bukan white colour, bukan juga blue colours, karena kalau blue colours itu kan dia masih sektor formal. Pembantu rumah tangga inikan sektor informal semua.