'Berantas Terorisme, Jangan Seperti Nguber Layangan'
- VIVA.co.id/Purna Karyanto Musafirian
Kenapa ada sekitar 4 juta TKI kita di luar negeri, ini lebih karena tidak tersedianya lapangan kerja yang cukup di dalam negeri. Saya sudah mengunjungi beberapa penampungan TKI. Para TKI kita yang lari dari..., saya tanya, kenapa sih kamu kerja di luar negeri? Toh, gaji juga nggak seberapa. Kita, kalau disuruh milih maunya nggak keluar negeri Pak, kita nggak ninggalin keluarga, anak, tapi ya tuntutan ekonomi. Itu satu. Jadi akar persoalannya di situ.
Yang kedua, ketika mereka berangkat, sudah pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja buat mereka, mereka ini kemudian menjadi objek trafficking, objek perdagangan manusia, dan itu sistematis sudah. Ya orang kampung bisa dapat paspor, KTP aja dia nggak punya, dokumen dia nggak punya. Tapi dia bisa dapatkan itu.
Jadi, ini ada persoalan domestik, ada potensi orang-orang yang termarginalkan secara ekonomi, lalu di tengah ini muncul pihak-pihak yang mengambil keuntungan ini. Karena, di negara lain ada orang-orang yang butuh. Ini yang terjadi.
Negara punya pengaturan, ada Kemenaker, ada BNP2TKI, ada imigrasi dan seterusnya, ada KBRI di negara sana. Tapi mekanisme kelembagaan negara, pemerintah, ini seperti kalah dengan tadi, jaringan non negara ini, jaringan non pemerintah, sindikat-sindikat (perdagangan manusia), kalah. Kemenaker moratorium, ini jalan masih kok. Saya nggak ngerti. Pertanyaannya adalah kenapa kok yang ini nih, okelah nggak usah menyelesaikan persoalan ekonomi di sini, kenapa ini nggak bisa nyetop ini, nggak bisa motong ini. Itu kan pertanyaan besar juga.
Ada orang dalam?
Dulu saya pernah mengundang Komisi IX, rapat bersama dengan Komisi I, bicara soal keberadaan TKI luar negeri, nggak pernah berhasil rapatnya. Saya nggak ngerti pokoknya nggak pernah kesampaian rapatnya. Ini masalah terus jalan pemerintah seperti nggak berdaya ngadepin masalah sama sindikat ini.
Oke, secara ekonomi mereka dianggap penghasil devisa puluhan triliun tiap tahun. Alhamdulilah. Tapi berapa besar harga yang harus kita bayar untuk itu?
Satu, terkait dengan citra RI di luar negeri. Saya bilang malu kita. Orang-orang Timur Tengah respek dengan yang namanya orang Malaysia. Jadi kalau ada orang Indonesia ke Timur Tengah mau ke dubai, Saudi, atau kemana, tampangnya agak keren gitu, (mereka menyapa) 'Malaysia, Malaysia, ayo beli, beli Malaysia,' bagus-bagus di mall atau di apa gitu. Tapi kalau kita dateng tampang agak lusuh. 'Indonesia, Indonesia, murah, murah.' Gitu, malu kita. Dan di Malaysia sendiri saya melihat ada pergeseran cara pandang. Persepsi terhadap orang Indonesia. Itu dari sisi nama baik.