Indonesia Raja Ketiga Sepeda Motor di Dunia
- Rendra Saputra/VIVA
Berbeda dengan mobil yang kini didorong dengan model Low Cost and Green Car (LCGC). Kapasitas produksi tentu harus disesuaikan, dua kali lipat. Misalkan dari satu juta unit menjadi dua juta unit. Lalu, penambahan investasi perakitan, suku cadang juga. Sebagai gambaran, investasi yang masuk dari roda empat di Indonesia US$7 miliar selama empat tahun.
Kalau motor sudah mencapai itu (angka investasi), karena kapasitas yang 10 juta unit diimbangi dengan kandungan lokal yang cukup tingi. Kandungan lokal 85 persen itu bukan main lho, karena juga melibatkan teknologi, dan sumber daya manusia yang banyak.
Selanjutnya...Mesti ada motor versi murah?
Bagaimana soal ekspor kita?
Ekspor kita bagus, meningkat 520 persen dari tahun kemarin. Di semester pertama tahun ini 70 ribu unit, kalau dikalikan empat (semester) 280 ribu unit. (Peningkatan) 650 persen juga dari tahun lalu.
Kita beruntung ada pasar baru yang bisa digarap dan semuanya (pabrikan) menggarap. Kita kalau melihat pasar ekspor mengagumkan. Sebagai contoh, Suzuki ekspor ke Jerman, Belgia, Inggris, Belanda, negara-negara maju semua. Sementara itu, teman-teman lain ekspor ke Turki, Iran, ada yang Filipina dan sebagainya. Ini kan Eropa plus Asia Pasifik. Amerika Latin juga.
Kalau mobil ada versi murah LCGC, apa motor di Indonesia juga butuh versi murahnya?
Seharusnya enggak perlu. Kalau motor versi murah tentu cc-nya juga kecil, seperti 50cc. Jika itu dilakukan, macet di jalanan makin lebih parah. Pertanyaannya, apakah cc kecil mampu berakselerasi yang cukup di jalanan, apalagi jika harus dinaiki dua orang. Motor itu kan harus ada hitung-hitungannya, seperti level ketepatan daya angkutnya juga.
Lalu, kenapa India bisa jual motor versi murah?
Harga motor di India murah-murah karena infrastrukturnya. Kita jauh dengan mereka, kita jauh lebih bagus lah. Pertanyaannya, apakah masyarakat Indonesia mau dijejali motor seperti itu (murah), dengan spesifikasi ala kadarnya.
Mungkin ada sebagian masyarakat yang menginginkannya, harganya separuhnya. Tapi apakah harga segitu warted, itu masalahnya. Kalau toh kita mau masuk ke sana, mungkin ada satu strategi yang lebih besar, apakah kita mau mulai jamah kendaraan motor yang digerakkan oleh listrik misalnya.