Dari Limbah Padi untuk Kemandirian Energi
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Jadi gini, memang kurang tahu yang diimpor (Pertamina) detailnya apa saja (dalam industri bahan bakar). Tapi sejauh ini, kita impornya juga masih bahan dasar, bukan dalam bentuk bensin. Tapi dalam bentuk minyak bumi yang sudah diproses itu kita terus impor, itu diproses di kilang-kilang. Makanya kita masih punya kilang di petrokimia.
Tapi yang jelas kalau punya teknologi ini, jangankan untuk domestik, kita bisa ekspor dan berkontribusi ke negara lain yang membutuhkan teknologi ini.Â
![]()
Secara ekosistem, apa yang dibutuhkan untuk mengembangkan katalis zeolit?
Pertama, dana. Kalau lihat ini peluang besar, tentunya pemerintah harus kontribusi menyuntik dan dan mengawal penelitiannya.
Penelitian berbeda dengan kehidupan kita sehari-hari ya. Harganya (biaya penelitian) memang lebih tinggi. Kalau di kimia pegang Rp5 miliar itu setahun itu kecil. Itu hal yang biasa. Biaya operasional di laboratorium itu memang miliaran. Enggak mahal lho kalau untuk dibandingkan industri petrokimia yang sehari penghasilan bisa Rp5 miliar.
Kita harus investasi dan fokus, misalnya pemerintah punya fokus (industri tertentu), bukan bagi rata. Kalau begini dapatnya kecil-kecil.Â
Nah saya melihat fokusnya enggak ada. Prinsipnya high investment high return, low investment ya low return.
Jadi kita perlu ada itu untuk membeli alat penelitian, alatnya kan mahal-mahal, kisaran ratusan juta sampai miliaran. Operasional juga mahal, perlu dana itu. Memang kita pertanggungjawabkan, sehingga kita bisa melatih skill kita. Kalau cuma baca textbook enggak bisa praktekkan ya sama saja.Â
Selanjutnya selain dana, ya kerja sama dengan industri harus mau memakai produk kita. Jangan sampai kita sudah jauh tapi industri lebih milih produk luar dengan segala politiknya gitu.Â
Ke depan harapannya bagaimana, ingin katalis zeolit dipakai industri kita?
Kita harap bisa berkontribusi ke industri dan meningkat skala besar untuk selanjutnya dipakai kemaslahatan, untuk bangsa kita. Supaya lebih menuju yang lebih tinggi. Selain itu, kita perlu mengembangkan sesuatu yang sama ke depan.Â
Untuk 2045, kita ingin menyambut hari kemerdekaan yang ke-100. Itu kita harus bisa menebak melihat 2045 sebenarnya, pada tahun itu apa kebutuhan orang-orang. Siapa tahu bukan seperti sekarang.