Dari Limbah Padi untuk Kemandirian Energi
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Contoh saat ini kita pakai bensin sebagai bahan bakar, 2045 mungkin enggak, bensin tapi berbasis hidrogen. Artinya harus siapkan hidrogen datang dari mana cara produksinya, bagaimana dan bagaimana kehidupannya. Sehingga kita tidak terus menjadi bangsa pengikut saja, tapi negara yang memimpin di dunia.Â
Peneliti di dunia bisa menemukan sesuatu pada usia muda, kisaran 25-30 tahun. Tapi peneliti kita cenderung menemukan sesuatu saat usia sudah lanjut. Tanggapan Anda?
Tapi tak apa-apa, karena kita memang baru seperti ini. Tapi ke depannya kita perlu siapkan. Ilmuwan harus bergelar doktor umur 25-26, itu idealnya. Saya dulu raih doktor umur 29. Menurut itu saya biasa saja.
Kalau kita lihat, penemu DNA itu sudah ambil post doctoral pada usia 25 tahun. BJ Habibie gelar doktor di bawah umur 30 tahun. Ini harus kita kejar ke sana.Â
Makanya saya terus membujuk ke mahasiswa agar mereka studinya cepat, berkualitas, terus kejar pendidikan tinggi master dan doktor. Tahun depan ini mahasiswa bimbingan saya, bisa lulus doktor umur 23 tahun.Â
Jadi ini artinya kita mempersiapkan. Muda tapi berkualitas. Harapannya seorang peneliti pasti senang, bangga kalau anak didiknya lebih berhasil. Kita harus persiapkan itu.Â
Anda melihat jaringan dan interaksi peneliti di Tanah Air sudah mendukung untuk pencapaian misi 2045 yang Anda sebutkan tadi?Â
Saya melihat ada peningkatan ada, banyak pertemuan seminar yang diselenggarakan di Indonesia. Orang asing pembicara terkenal datang ke Indonesia, terus dijalankan.Â
Kemudian kita memunculkan ilmuwan kita di kancah internasional. Harus muncul di internasional sebagai pembicara keynote. Untuk bisa sebagai keynote internasional tidak mudah, kita harus diakui kepakaran kita.Â
Kita harus menulis publikasi yang betul-betul mempunyai dampak tinggi terhadap sains.Â
Peneliti kita banyak memilih berkarier di luar negeri dibanding di Tanah Air karena ekosistem di dalam negeri tak mendukung. Tanggapan Anda?
Ya betul. Menurut saya, mereka (peneliti Indonesia di luar negeri) tidak mau membuang kesempatan, kita harus pahami itu. Terutama karena investasi terhadap penelitian terutama alat-alat laboratorium kita kurang.Â