Dari Limbah Padi untuk Kemandirian Energi
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Kita masih menganggap satu miliar itu, uang yang sangat besar hanya untuk beberapa orang untuk mengerjakan penelitian.Â
Selama kita masih berpikir seperti itu ya kita tidak akan membelanjakan untuk pembelian alat penelitian. Sehingga orang yang berpotensi malah mencari 'mainan' itu, jangan jauh-jauh, di Singapura pun ada. Ada yang mau spending pada hal yang berdampak tinggi terhadap kehidupan sehari-hari, dibanding industri itu (spending) tak apa-apanya.Â
Negara yang ideal untuk riset itu 2 persen dari total GDP. Kita baru 0,02 persen, sedangkan Malaysia sudah 0,1 persen, Singapura bisa 1 persen. Kita masih jauh.Â
Saya bisa menerima kalau ilmuwan itu di luar negeri agar tidak membuang kesempatan, hidup kan tidak lama kan selama hidup mereka ingin berprestasi.Â
Anda sudah dikontrak di Jepang untuk meneliti, tapi memilih pulang ke Indonesia?
Betul. Tapi ya karena ada kesempatan. Jadi ilmuwan di luar keinginannya itu pulang, tapi masalahnya kesempatan belum datang.Â
Saya waktu itu umur 33 tahun ada tawaran jadi dosen, jadi saya putuskan pulang, saya lihat peluang yang baik, terlepas semua masalah. Jadi saya mau pulang, mau berjuang.Â
Masalah lainnya, saat peneliti kita mau pulang. Begitu pulang malah dibebani hal-hal yang administratif, bukan menekuni keilmuannya lebih mendalam. Tanggapan Anda?
Betul. Makanya kita harus belajar, termasuk di kampus dengan teman-teman, saya selalu mendiskusikan hal itu. Kita ingin yang muda lebih ke arah selain administratif, arah ke keilmuan itu. Itu memang masih masalah.Â
Di Indonesia ada budaya harus nurut senior. Kalau senior yang bukan keilmuan kita ya bagaimana. Kalau senior sesuai ilmu kita, ya mau. Kita harus nurut di luar keilmuan kita, sehingga kita nurut pada hal-hal yang berbau administratif.Â
Jadi hierakri itu masih lebih lebar, ya bagus tapi harusnya yang arahnya ke keilmuan. Jadinya enggak fokus, habis di administrasi. Kita harus ngomong secara baik-baik ke kampus kita, mohon diberikan kesempatan melakukan bidang ini.Â
Tri Dharma perguruan tinggi itu kan meneliti, mengajar dan mengabdi. Perguruan tinggi harusnya bisa memilah, mana yang fokus ke penelitian, mengajar atau mengabdi. Itu yang saya kritisi.Â