Dari Limbah Padi untuk Kemandirian Energi
- VIVA.co.id/M Ali Wafa
Anda kan pernah di Jepang. Di sana sangat menghargai ilmuwan. Bisa diceritakan?
Iya, kita di sana diberi 'mainan'. Ilmuwan 'mainannya' ya laboratorium. Tidak boleh duduk di meja, harus di laboratorium kasih fasilitas. Itu adalah penghargaan pertama.Â
Karena di laboratorium, tentunya penghasilannya harus cukup, kasih makan yang cukup. Kalau enggak, ya nanti ilmuwan pastinya ngamen.Â
Jangan sampai dia jadi mengajar di universitas lain, dosen terbang itu ganggu konsentrasinya. Jadi laboratorium diberikan, itu penghargaan tertinggi, kalau sudah lengkap, mereka bisa berkarya.Â
Jepang saat lihat satu peneliti sudah lulus doktor, wah kelihatan ini ahli. Di-hire (dipekerjakan) lembaga riset atau universitas, di laboratorium dikasih startup funding. Ini uang untuk mulai kegiatan Anda. Di AS, di Jerman sudah ada (skema tersebut).
Kalau di Indonesia kan beda.
Penghargaan di Jerman sama. Investasi di penelitian dan ada hubungan dengan industri. Jadi merasa ada fasilitas ada tanggung jawab dan dihubungkan dengan pihak terkait. Kami punya laboratorium ini, kita bisa bekerja sama dengan industri. Jadi otak saja enggak cukup, butuh infrastruktur.