Frederica, Produser Muda Pencetak Film Box Office
- VIVA.co.id/Maya Sofia
Prosesnya karena saya dari bawah, saya mengerti cara bikin iklan bagaimana, televisi bagaimana, sampai akhirnya masuk film. Tapi memang waktu pertama kali masuk film saya dikerjain. Kayak new kids on the block. Dikerjain sempat waktu awal produksi. Tapi kan semua itu proses pembelajaran menurut saya. Kalau saya enggak jatuh bangun mungkin enggak bisa sampai di sini juga.
Sebagai produser perempuan, apakah ada pandangan miring dari staf pria ketika itu?
Ada, kayak gitu ada. Saya mah, lepasin saja. Saya cuma merasa, ‘Gue punya kerjaan yang gue kelarin.  Terserah elo mau ngomong apa’. Karena bukan hanya perempuan, mereka juga melihat saya lebih muda dari mereka. Itu enggak gampang. Saya melihatnya bahwa ini suatu tantangan buat saya dan saya menghormati mereka yang lebih tua dari saya.
Apakah pandangan miring itu masih ada sampai sekarang?
Sekarang enggak. Mungkin dibarengi eksistensi Falcon. Mereka jauh lebih respek. Tapi awal-awal, seperti itu. Awal-awal sempat minder, kok begini. Tapi aku merasanya harus survive, harus jalanin.
Dengan keberhasilan yang sudah diraih, termasuk Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 yang menjadi film Indonesia terlaris sepanjang masa, apakah Anda melihatnya sebagai sebuah capaian tertinggi?
Pastinya. Saya cuma kadang-kadang berpikir Tuhan cinta sama saya banget sampai dikasih kesempatan begini. Kita cuma minta guide dari yang di Atas. Harus ajarin kita tetap rendah hati, kerja keras, jangan berasa di awang-awang, sudah sukses. Mungkin ada rintangan di depan. Pohon semakin tinggi, semakin kencang anginnya.
Ada tips untuk produser muda?
Jangan pantang menyerah karena kesuksesan itu tidak gampang. Biar bagaimana pun juga selalu lakukan kebaikan dan kebaikan akan datang sama kamu. Itu yang terkadang selalu jadi pemikiran saya. Kalau orang jahat, jangan dijahatin lagi.
Apakah ada ambisi atau rencana ke depan?
Saya enggak pernah ada ambisi dalam hidup. Saya selalu ngejalanin yang setiap saya jalanin itu saya ingin yang terbaik dari diri saya. Karena kenapa? No turn back time. Saya enggak bisa kembali lagi ke masa itu. Saya enggak bisa bilang, ‘Sorry kemarin begini'. Jadi itu kadang-kadang yang selalu aku tanamin.