Frederica, Produser Muda Pencetak Film Box Office
- VIVA.co.id/Maya Sofia
Bagaimana Anda membagi waktu antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi atau keluarga?
Mungkin karena saya belum menikah, jadi saya lebih fleksibel sebenarnya karena saya masih tinggal sama orangtua. Kalau secara komposisi 60 persen di pekerjaan, sisanya keluarga dan pribadi. Tapi cenderung ke pekerjaan karena orangtua saya sering ngomel-ngomel karena setiap kali weekend pasti kerja. Tapi ya mungkin karena kita enjoy, jadi kita jalani saja.
Dari awal memang sudah tertarik dengan dunia film?
Pendidikan saya itu public relation (PR) sebenarnya. Enggak nyambung. Awalnya saya di media agency. dari media agency saya pindah ke advertising agency. Dari situ ke televisi, pas ke televisi saya kerja sama dengan international company, kayak 21st Century Fox, mereka giant company. Saya belajar banyak di sana.Â
Usia Anda ketika itu?
Waktu itu mungkin 26-27 tahun. Saya bikin Fear Factor sama tiga negara, Malaysia dan India. Waktu itu biaya terlalu besar, jadi kita patungan tiga negara. Syutingnya di Malaysia. Pakai stunt director dari Afrika Selatan. Pokokknya profesional. Belajar banget di sana. Habis dari situ bikin 30 Seconds to Fame. Itu juga sama polanya, satu produser saja yang handle.
Bagaimana akhirnya Anda bisa berlabuh di Falcon Pictures?
Jadi waktu itu saya kerja di Bhakti, grupnya MNC. Pak Naveen keluar dari Bhakti, bangun Falcon. Saya keluar juga, ikutan dan masuk sini. Jadi memang dari awal Falcon berdiri saya sudah join.
Jadi saya dan Pak Naveen bisa dibilang hampir 15 tahun. Mungkin karena saya loyal sama orang. Saya tahu berterima kasih, saya tahu orang yang sudah memberikan saya kesempatan luar biasa, saya harus membalas dengan kerja keras saya. Jangan sampai orang itu kecewa.
Dahulu, pertama kali kerja saya cuma administrasi yang kayak nge-fax, nge-print. Pertama kali kerja seperti itu karena waktu itu saya part time sama kuliah. Kuliahnya malam, jadi pagi sampai sore saya ke kantor.Â
Juga bukan dilahirin dari keluarga kaya raya. Apalagi waktu itu tahun 1998, zaman-zamannya krismon. Jadi saya mau kuliah saja pinjam duit sama bos. Nah, bos saya dahulu itu orang India. Saya dahulu kerja di tukang kain di Pasar Baru, dibayari sama dia, nyicil. Dari situ berhenti, beberapa bulan kerja, berhenti, sampai akhirnya ketemu sama Pak Naveen.