Portamento di Industri Ekonomi Kreatif
- VIVA/Ikhwan Yanuar
VIVA – Ibarat pepatah gajah dipelupuk mata tak nampak tapi semut diujung lautan terlihat begitulah kondisi Ekonomi Kreatif di Indonesia sebelum dibentuknya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) oleh Presiden Joko Widodo pada Januari 2015. Lembaga baru ini diharapkan dapat meningkatkan kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Sebab, seperti kita ketahui Indonesia sangat memiliki kekayaan ekonomi daerah yang melimpah ruah dan selama ini kekayaan tersebut tidak tergali dengan maksimal. Hal itulah yang membuat pemerintah Joko Widodo fokus menggenjot ekonomi kreatif untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di daerah-daerah.
Selain itu dari sub sektor yang ada selama ini, Bekraf memiliki tugas untuk menggali potensinya agar bisa meningkatkan nilai ekonomi. Baik itu dari sektor musik, seni rupa, seni pertunjukan, kriya, film animasi dan video, fotografi, desain interior, desain komunikasi visual, desain produk, fashion, penerbitan, periklanan, serta tentunya adalah kuliner.
Pada pemerintahan sebelumnya, ekonomi kreatif tidak dimunculkan di awal dalam setiap kegiatan ekonomi. Bahkan, ekonomi kreatif hanya ada di dalam satu kedeputian di bawah Kementerian Pariwisata yang tentunya hanya lebih fokus menggenjot lokasi wisatanya saja, tanpa fokus menyiapkan apa saja yang ada di dalamnya.
Dalam perjalanannya pembentukan Bekraf tentunya banyak halangan dan rintangan, karena besarnya harapan masyarakat terhadap lembaga ini begitu besar. Sementara, infrastruktur dari lembaga tersebut belum tersusun dengan rapih, sehingga banyak kebijakan-kebijakan yang diambil belum secara maksimal namun mulai dirasakan.
Selama satu tahun setelah dibentuk, Bekraf pun telah mencatat adanya pertumbuhan kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB sebesar 4,38 persen pada 2015 dengan nominal mencapai Rp852.24 triliun, lebih tinggi dari tahun sebelumnya sebesar Rp784,82 triliun.
Atas capaian tersebut tentunya, Bekraf menginginkan peningkatan lebih besar lagi setelah lembaga ini lebih siap. Terlebih pada akhir 2017 ini ditargetkan kontribusi ekonomi kreatif harus mencapai Rp1.000 triliun. Dan untuk mengetahui langkah-langkah tersebut VIVA berkesempatan mewawancari Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf di ruang kerjanya pekan lalu. Berikut petikannya:
Â
Apa saja yang sudah Anda lakukan sejak memimpin Bekraf?