Logo BBC

Kim Jong-un: Bagaimana Rasanya Hidup di Bawah Diktator Muda

Kim Jong-un. BBC Indonesia
Kim Jong-un. BBC Indonesia
Sumber :
  • bbc

Harapannya, gagasan itu akan dianggap normal oleh masyarakat internasional. Tetapi tidak berhasil dengan cara itu.

Pertaruhan besar `Rocket Man`

Meningkatnya ketegangan antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Kim Jong-un berakhir dengan pertunjukan diplomatik.

Diktator yang sering dikarikaturkan sebagai bayi manja yang gemuk oleh media-media barat itu berbagi panggung dan melangkah dengan percaya diri bersama Trump.

Halaman depan surat kabar Korea Utara menampilkan foto keduanya berjabat tangan saat bertemu di Singapura.

Kim Jong-un dan Donald Trump
BBC

Tetapi sanksi yang diberikan untuk mengekang program nuklir di negara itu mulai terasa menggigit. Meski terpesona oleh foto itu, reaksi dari desa-desa di luar Pyongyang tidak terdengar.

"Kami tidak mampu menganalisis maknanya. Kami gagal memahami bagaimana pertemuan itu bisa mengarah ke perbaikan atau sejenisnya," kata pedagang Choi Na-rae.

Tidak ada kesepakatan yang dihasilkan dari pertemuan itu, sehingga duta besar Ryu percaya itu semua hanya lah pertunjukan diplomatik demi mendapatkan keringanan sanksi.

"Korea Utara tidak akan pernah bisa merelakan nuklir karena menganggapnya penting demi keberlangsungan rezim."

Krisis Covid-19

Hal yang lebih buruk datang menguji Kim Jong-un.

Ketika pandemi Covid-19 melanda China pada Januari 2020, Korea Utara menutup perbatasannya untuk lalu lintas orang dan barang.

Makanan dan obat-obatan vital menumpuk di pintu masuk utama Dandong karena tidak bisa masuk ke Korea Utara. Padahal, lebih dari 80% perdagangan di negara itu berasal dari China.

"Banyak yang berubah sejak pandemi," kata Ju Seong yang merupakan seorang pengemudi di Korea Utara. Dia sempat berkomunikasi singkat dengan ibunya di dekat perbatasan China.

"Perekonomian memburuk, harga barang meningkat. Kehidupan menjadi jauh lebih sulit. Orang tua saya tampak berupaya mendapatkan makanan, tetapi harganya terlalu mahal. Situasinya sangat membuat stres dan tampak buruk."

Beberapa laporan menyebutkan bahwa kelaparan terjadi.

Kim Jong-un sendiri telah menggambarkan situasi ini sebagai "krisis besar". Dia bahkan meneteskan air mata dalam pidatonya, sesuatu yang belum pernah dilakukan pemimpin Korea Utara sebelumnya.

Seorang mantan dokter Korea Utara, Kim Sung-hui, mengatakan sebagian besar obat-obatan harus dibeli di pasar gelap. Listrik padam secara rutin di ruang operasi. Ahli bedah terkadang bekerja tanpa menggunakan sarung tangan karena tidak tersedia.