Logo ABC

Seorang Remaja Gugat Subway Terkait Kontrak Kerja 'Menghisap Darah'

Carla dipecat dari tempat kerjanya sebagai pengatur lalu-lintas saat mempertanyakan gajinya yang tak kunjung dibayar oleh perusahaan. (ABC News: John Gunn)
Carla dipecat dari tempat kerjanya sebagai pengatur lalu-lintas saat mempertanyakan gajinya yang tak kunjung dibayar oleh perusahaan. (ABC News: John Gunn)
Sumber :
  • abc

Chantelle Zentveld begitu gembira ketika diterima bekerja di Subway, salah satu gerai waralaba makanan cepat saji, karena artinya ia bisa mengisi waktu luangnya sepulang sekolah.

Tapi saat menerima gaji pertamanya, dia langsung curiga.

"Saya menghitung berapa banyak seharusnya saya dibayar jika mengikuti ketentuan. Jumlahnya hampir AU$300 untuk kerja delapan minggu," katanya kepada ABC News.

Remaja berusia 17 tahun ini sekarang menggugat Subway ke badan pengawas hubungan industri kerja, yakni Fair Work Commission, untuk mengakhiri perjanjian kerjanya yang sudah kedaluwarsa di tahun 2015.

Perjanjian serupa diterapkan oleh 60 pemilik gerai waralaba Subway di tiga negara bagian Australia.

Seringkali perjanjian ini disebut sebagai "perjanjian zombie" karena dipandang "menghisap darah" para pekerjanya karena sistem gaji-nya dilakukan dengan model perjanjian kerja yang sudah usang.

Chantelle yang diwakili Serikat Buruh SDA berdalih perjanjian kerjanya itu mencakup sistem penggajian dan kondisi kerja yang tidak sesuai dengan sistem saat ini, sehingga ia mendapat gaji di bawah semestinya.

Pekan lalu, sebuah komite Senat Australia yang dibentuk pada 2019 mengajukan laporannya ke Senat.

Dalam laporan itu disebutkan pelanggaran hukum berupa kekurangan pembayaran gaji pekerja di Australia bersifat sistemik, berkelanjutan, dan memalukan. Jumlahnya diperkirakan mencapai A$6 miliar per tahun.