Kamboja - Thailand Berunding

VIVAnews - Tentara Thailand dan Kamboja masih dalam posisi saling berhadapan di perbatasan, ketika pejabat militer mendesak diadakan pembicaraan damai, Kamis 16 Oktober 2008, sehari setelah baku tembak dekat Kuil Preah Vihear yang menjadi sumber perselisihan.

Pejabat militer senior dari kedua pihak bertemu di Provinsi Sisaket Thailand, dekat di perbatasan Kamboja, untuk membicarakan bentrokan kemarin, yang menewaskan 2 tentara Kamboja dan melukai 10 orang dari kedua pihak.

Bentrokan hari Rabu adalah yang pertama menelan korban tewas sejak Juli lalu, ketika UNESCO menyetujui permintaan Kamboja untuk menjadikan Kuil Preah Vihear menjadi situs Bersejarah Dunia dibawah PBB.

Keputusan itu menyulut ketegangan diantara kedua negara bertetangga ini, dimana masing-masing mengklaim sebagai pemilik dari tanah di seputar kuil, dan menyebabkan kedua negara mengirimkan tentara ke perbatasan.

“Situasi di perbatasan tenang, tapi tentara Thailand dan Kamboja masing saling berhadapan pada titik yang kritis,” kata Kolonel Thanya Kiatisarn, pejabat militer Thailand di perbatasan.

Dari pihak Kamboja, reporter AP melihat tambahan belasan tentara Kamboja dengan senjata lengkap dalam perjalanan menuju garis depan. “ Kami baru saja mendapat perintah dari komandan kami untuk siaga dan siap untuk bertempur, “ kata tentara Kamboja di kuil, Kapten Theam Thuy.

Sementara itu Pemerintah Indonesia  menyesalkan terjadinya kontak senjata di perbatasan Thailand dan Kamboja. "Seharusnya kejadian seperti itu tidak terjadi sebab para pemimpin dari kedua negara sebelumnya sudah menyatakan komitmen utk mencari solusi damai," kata Menteri Luar Negeri Indonesia, Hassan Wirajuda, sebelum menghadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Jakarta, Kamis 16 Oktober 2008.