Obama 'Kompori' Kaum Muda Inggris Tolak Brexit

Presiden AS Barack Obama.
Sumber :
  • REUTERS/Carlos Barria

VIVA.co.id – Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengatakan bila kaum muda di Inggris harus memiliki pandangan optimis soal masa depan negeri Ratu Elizabeth II itu.

PM Inggris Siapkan Skenario Brexit Berakhir Tanpa Kesepakatan

Berbicara di depan 500 audiensi pemuda Inggris di London, pada Sabtu lalu, melansir dari situs Channel News Asia, Minggu, 24 April 2016, secara terang-terangan Obama memohon pemuda Inggris menolak isolasionisme (menutup diri dari dunia luar) dan xenophobia (ketakutan terhadap negara lain).

Pernyataan ini terucap sehari setelah perdebatan Brexit (British Exit) atas referendum Inggris untuk memilih keluar atau tetap dalam keanggotaan Uni Eropa pada 23 Juni 2016.

Inggris Tolak Bayar Biaya Brexit 100 Miliar Euro

"Saya melihat panggilan baru untuk isolasionisme dan xenophobia. Saat ini, saya berbicara dan memohon kepada Anda (kaum pemuda) untuk menolak panggilan itu. Saya berharap Anda semua tidak terpengaruh dan bersikap bijak dalam mengambil keputusan untuk masa depan Inggris," kata Obama.

Presiden AS ke-44 itu juga memperingatkan Inggris untuk 'melawan' keinginan meninggalkan Uni Eropa, serta mengatakan bahwa London akan berada 'di antrean belakang' soal kesepakatan perdagangan pascaBrexit.

Warga Inggris Menyesal Pilih ke Luar dari Uni Eropa

Menyinggung soal ancaman dari kelompok ISIS, Obama mengungkapkan tidak perlu dirisaukan karena negaranya memiliki sekutu terbesar dalam perang antiteror, yaitu Muslim Amerika.

"Jika kita terlibat dalam Islamofobia berarti kita berada dalam lingkungan sempit. Justru kita harus mengubah pikiran dan perilaku untuk memerangi aksi terorisme," katanya.

Sementara Wali Kota London, Boris Johnson, pendukung Brexit, mengatakan, pernyataan Obama menggambarkan sebagai 'pemimpin munafik' atas campur tangannya terhadap masalah internal Inggris.

Ilustrasi tentara Inggris.

Pemerintah Inggris Dituduh Tutupi Kejahatan Perang yang Amat Keji

Dugaan adanya pembunuhan anak-anak dan korban sipil lainnya.

img_title
VIVA.co.id
18 November 2019