Kronologi Penangkapan Pelaku Pemalsu Surat Keterangan Sehat Corona

VIVA – Di tengah masa pandemi ada saja orang yang mengais keuntungan dengan cara tak halal. Seperti yang dilakukan empat pemuda asal Kabupaten Jembrana, Bali yang nekat memalsukan surat kesehatan. Surat palsu itu mereka jual kepada pemudik yang memang dipersyaratkan wajib memiliki surat keterangan sehat dalam melakukan perjalanan.

COVID-19 di Jakarta Naik Lagi, Total Ada 365 Kasus

Kabid Humas Polda Bali, Komisaris Besar Syamsi menjelaskan kronologi ditangkapnya empat pemuda tersebut. Identitasnya, kata dia, adalah Widodo, Ivan Aditya, Roni Firmansyah dan Putu Endra Ariawan. 

Penangkapan keempatnya, lanjut dia, bermula dari viralnya video para pelaku penyedia surat kesehatan bagi pengguna pelabuhan yang akan menyeberang ke Pelabuhan Gilimanuk dengan kisaran harga antara Rp100-300 ribu.

Malaysia Detects Over 6000 Coronavirus Cases in a Week

"Kemudian dilakukanlah penyelidikan terhadap informasi tersebut, di mana kejadian tersebut terjadi pada Selasa 12 Mei 2020 sekitar pukul 20.00 WITA dengan dua orang saksi yakni M Muslimah dan Abdurahman yang hendak menyeberang di Pelabuhan Gilimanuk," kata Syamsi, Jumat 15 Mei 2020.

Dari keterangan para saksi itu, petugas kemudian menangkap keempat pelaku di rumahnya masing-masing. "Dari hasil introgasi terhadap pelaku Ivan Aditya dan Roni Firmansyah mengakui telah menjual lima lembar surat seharga Rp100 ribu per lembar dan surat tersebut didapat dengan cara membeli dari pelaku Widodo seharga Rp25 ribu per lembar," katanya.

Kasus COVID-19 di DKI Jakarta Naik Sejak November 2023

Setelah mendapat surat dari Widodo, kedua pelaku memperbanyak surat tersebut di tempat percetakan milik Surya Wirahadi Pratama. Widodo sendiri mengaku mendapat blanko surat kesehatan dengan cara memungut di depan sebuah minimarket di Gilimanuk dan memperbanyak dengan cara memfotokopi bersama Putu Endra Ariawan.

"Widodo dan Putu Endra Ariawan berhasil menjual sepuluh lembar dengan harga per lembar dijual seharga Rp50 ribu kepada para pengguna Pelabuhan Gilimanuk dan menjual kepada Ivan Aditya sebanyak tiga lembar seharga Rp25 ribu," papar Syamsi.

Syamsi menjelaskan, modus pelaku adalah memanfaatkan SE Nomor 04 Tahun 2020 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang Dalam Rangka Percepatan Penanganan Covid-19 dengan cara membuat surat keterangan kesehatan palsu dan menjualnya kepada para pengguna pelabuhan Gilimanuk.

"Barang bukti yang kita amankan berupa dua lembar surat kesehatan dan satu unit printer L 210. Para pelaku dijerat dengan pasal 263 atau 268 KUHP tentang Membuat Surat Palsu atau Membuat Surat Keterangan Dokter yang Palsu dengan ancaman hukuman 6 tahun penjara," tutur dia.

Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya