Tanggapi Pernyataan Macron, Wapres Ma'ruf: Agama Beda dengan Terorisme

Wakil Presiden KH Maruf Amin
Sumber :
  • http://www.wapresri.go.id

VIVA – Wakil Presiden, Ma'ruf Amin, angkat suara mengenai ucapan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang membuat marah banyak umat Islam di dunia. Wapres Ma'ruf menegaskan agama berbeda dengan terorisme.

img_title Organisasi Mahasiswa Islam Siap Jadi Mitra Strategis Pemerintahan Prabowo Kawal Asta Cita

"Pernyataan (Macron) tidak bisa dibenarkan, sebab tidak ada satu agama pun yang tentu mentolerir terorisme. Karena itu, agama adalah agama, terorisme adalah terorisme," kata Ma'ruf secara virtual, Jumat, 6 November 2020.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Tokoh senior Nahdlatul Ulama ini menegaskan apa yang diucapkan oleh Presiden Macron ini telah mencederai hak asasi dan simbol agama umat Islam di seluruh dunia. "Ya, jadi sebenarnya itu, hal yang itu juga bisa menimbulkan kemarahan dari banyak pihak," ujar Ma'ruf.

img_title Kisah Perjalanan Spiritual Robert Bauer: Eks Timnas Jerman yang Putuskan Mualaf Usai Bertemu Sang Istri

Baca juga: Wapres Masih Tunggu Laporan Kehalalan Vaksin COVID-19

Ma'ruf mengakui kebebasan berekspresi merupakan hak seluruh warga negara dunia dan merupakan bagian dari demokrasi. Namun, kebebasan berekspresi khususnya dalam hubungan antaragama, Ma’ruf berharap, tidak mencederai kehormatan dan kesucian nilai-nilai dan simbol agama.

img_title Benarkah Lamine Yamal Seorang Muslim? Ini 5 Faktanya

"Seperti yang dikatakan oleh Presiden (Joko Widodo) bahwa berekspresi itu tidak boleh mencederai kehormatan dan kesucian nilai-nilai dan simbol agama. Karena itu sekali lagi hal seperti itu tidak bisa dibenarkan, dan harus dihentikan. Kita berharap bahwa kebebasan ini perlu dibingkai dalam spirit dan menjaga persaudaraan dunia," kata Ma'ruf.

Sebelumnya, Marcon mengatakan dia dapat memahami kemarahan umat Muslim yang dikejutkan oleh kartun kontroversial yang menggambarkan Nabi Muhammad. Namun dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera, dia menegaskan dia tidak pernah bisa menerima pembenaran atas tindakan kekerasan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Macron mengatakan posisinya telah disalahpahami: bahwa perannya bukanlah mendukung konten kartun, yang dipandang sebagai penghujatan oleh umat Islam, tetapi untuk membela hak atas kebebasan berekspresi.

Macron menegaskan posisi Prancis yang tengah memerangi "separatisme Islam, bukan Islam". Pernyataan ini diungkapkan menyusul munculnya artikel dari sebuah surat kabar Inggris yang menyebut Macron menstigmatisasi Muslim Prancis untuk tujuan politik dan menumbuhkan islamophobia.

"Saya tidak akan mengizinkan siapapun untuk mengklaim bahwa Prancis, atau pemerintahnya, mendorong rasisme terhadap Muslim," kata Macron yang dikutip Economic Times.  

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi

Bangun Keamanan Kawasan, Iran Perkuat Hubungan dengan Negara-negara Muslim Tetangga

Menlu Iran, Araghchi mengatakan, Teheran berupaya menjalin hubungan politik dan ekonomi yang lebih kuat dengan negara-negara Muslim, khususnya negara-negara tetangganya.

img_title
VIVA.co.id
30 Agustus 2026
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut