Orang yang Disebut Dalang Bom Sarinah Ternyata Ahli Komputer

Orang yang Disebut Dalang Bom Sarinah Ternyata Ahli Komputer
Sumber :
  • VIVA.co.id/Fajar Sodiq
VIVA.co.id - Polisi menyebut Bahrun Naim sebagai dalang serangan teroris di mal Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta, pada Kamis kemarin, 14 Januari 2015. ‎

Lelaki asal Solo, yang kini bergabung dengan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) itu adalah lulusan jurusan ilmu komputer pada Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo.

Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UNS, Prof Darsono, mengaku telah berkoordinasi dengan Dekan III bahwa diduga salah satu yang terlibat dari serangan teror bom Sarinah adalah salah satu alumni UNS.

"Kami tadi melakukan pelacakan untuk membuktikan, apakah ia (Bahrun Naim) lulusan UNS. Ternyata benar, beliau adalah alumni dari Diploma III (D3) UNS," katanya kepada wartawan di kampus UNS, Jumat 15 Januari 2015.

Naim, kata Darsono, merupakan mahasiswa diploma tiga Ilmu Komputer Fakultas MIPA angkatan 2002 dan lulus 2005.‎ Dia lulus dari UNS, dengan menyandang gelar ahli madya.

Wakil Dekan III Fakultas MIPA, Sugiarto, mengatakan jurusan yang ditempuh Bahrun Naim adalah angkatan yang pertama saat itu. "Pada 2002 itu angkatan pertama kali untuk ilmu komputer. Jadi, Bahrun Naim merupakan mahasiswa angkatan pertama," katanya.



Profil Bahrun Naim

Kemarin, Kepala Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya, Inspektur Jenderal Tito Karnavian, menyebut pelaku bom bunuh diri di mal Sarinah adalah jaringan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

Karnavian, yang juga mantan personel Detasemen Khusus Antiteror 88, menjelaskan bahwa kelompok ISIS telah meluaskan jaringan mereka ke seluruh dunia, termasuk ke kawasan Asia Tenggara. Perluasan jaringan itu adalah perintah pemimpin mereka, Abu Bakar al-Baghdadi.

Menurutnya, ISIS pada masa awal kemunculannya memang hanya beroperasi di Irak dan Suriah. Mereka belakangan mengubah strategi dengan meluaskan jaringan dan mendirikan cabang-cabang di seluruh dunia: di Eropa, Afrika, Asia—termasuk Asia Tenggara.

“Khusus di Asia Tenggara, Bahrun Naim, dia menjadi leader (pemimpin) ISIS di Asia Tenggara. Di Filipina sudah dideklarasikan,” katanya.

Para petinggi ISIS di Asia Tenggara, kata Karnavian, sedang bersaing memperebutkan pengaruh agar diakui layak memimpin. Maka, salah satu caranya, masing-masing yang bersaing melancarkan aksi teror. Bahrun Naim sudah memulai debutnya dengan meledakkan bom di Sarinah yang disebut paling besar.

Bahrun Naim sesungguhnya adalah pemimpin kelompok Daulat Islam (Islamic States/IS), jejaring ISIS. Kelompok ISIS, sesuai perintah pemimpin tertinggi mereka, Abubakar Baghdadi, meluaskan daerah operasi ke seluruh dunia sehingga disebutlah IS.

Multiplikasi sel-sel ISIS di Asia Tenggara terjadi di Indonesia, Malaysia, Filipina dan Thailand. Para pemimpin IS di negara-negara Asia Tenggara itu kini bersaing untuk bisa menjadi pemimpin wilayah.

Di Indonesia, Bahrun Naim memimpin jaringan IS dan membentuk Katibah Nusantara. Persaingan Bahrun adalah terutama dengan kelompok IS di Filipina Selatan.


Bom Rakitan 10 Kg Sisa Konflik Aceh Ditemukan

Kepemilikan amunisi
Polri Teliti Ledakan Granat di Kampus Haluoleo di Kendari

Bahrun Naim pada 9 November 2010 ditangkap atas kepemilikian ratusan butir amunisi ilegal. Pengadilan Negeri Surakarta pada Juni 2011 menjatuhkan vonis penjara 2 tahun 6 bulan terhadap Bahrun Naim. 
Ini Identitas Empat Korban Tewas Ledakan di Kampus Haluoleo

Setelah bebas, pada 2014 lalu, Bahrun pergi ke Suriah dan bergabung bersama militan ISIS yang bermarkas di Raqqa, yang diklaim sebagai wilayah ibu kota ISIS.

"Pesan kepada selnya untuk melakukan serangan, sasaran polisi, tempat berkumpulan orang barat dan komunitas lain. Saat itu serangan diperkirakan terjadi akhir tahun, Natal dan Tahun Baru," ujar Karnavian.

Polisi dibantu TNI kemudian merespons ancaman itu dengan memperkuat keamanan jelang perayaan Natal dan Tahun Baru, sembari memburu dan menangkap pihak-pihak yang diduga jaringan Bahrun Naim di Indonesia.  

"Sehingga di akhir Desember lalu ada penangkapan di Bekasi, salah satunya orang Tiongkok dan Arif. Mereka ditangkap dan mengakui ada instruksi dari Bahrul Naim," kata mantan Kepala Densus 88 itu. (asp)
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya