Belanja di Pasar Ini Pakai Mata Uang Bambu

Uang pring atau uang dari bambu untuk bertransaksi di Pasar Papringan, Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah.
Sumber :
  • VIVA.co.id/Dwi Royanto
VIVA.co.id - Umumnya pasar di Indonesia menggunakan mata uang rupiah sebagai alat tukar atau transaksi jual-beli. Namun ada sebuah pasar tradisional yang memiliki tradisi unik, yakni menggunakan mata uang bambu sebagai alat transaksi.
img_title 7 Tradisi Unik Perayaan Isra Miraj di Indonesia, dari Peksi Buraq hingga Khatam Kitab
 

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Fenomena pasar unik itu ada di Pasar Papringan. Sebuah pasar tradisional yang terletak di Desa Caruban, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Disebut sebagai Pasar Papringan karena lokasi pasar memang berada di kawasan hutan rumpun bambu yang teramat lebat.
img_title 8 Tradisi Unik Menyambut Ramadhan di Indonesia: Dari Nyorog Sampai Megibung
 
Pasar Papringan tidak setiap hari buka. Sebagai pasar yang lekat dengan budaya masyarakat, pasar itu hanya buka setiap 35 hari sekali, tepatnya setiap Minggu wage, hitungan hari dalam penanggalan Jawa yang kerap disebut selapanan.
img_title Tradisi dan Mitos di indonesia Saat Momen Gerhana Bulan
 
Paling unik adalah mata uang yang digunakan sebagai transaksi. Para pengunjung tidak dibolehkan menggunakan uang biasa untuk membeli. Pasar itu memiliki mata uang sendiri yang disebut pring, bahasa Jawa yang berarti bambu.
 
Mata uang pring dibuat khusus dari kayu berbentuk koin. Dua sisi mata uang memiliki perbedaan, yakni satu sisi bercap Pasar Papringan dan sisi lain bertuliskan nilai mata uang. Nominal uangnya dari 1 pring, 2 pring, 10 pring, dan 50 pring. Jika dikurskan, satu pring sama dengan Rp1.000. Setiap pengunjung yang hendak berbelanja wajib menukarkan dahulu uang rupiahnya dengan mata uang khusus itu.
 
Makanan olahan
 
Menariknya lagi, seratus persen pedagang di pasar itu adalah merupakan warga asli Desa Caruban. Tujuan pembuatan pasar adalah untuk memberdayakan potensi ekonomi masyarakat sekitar.
 
Belanja di Pasar Ini Pakai Mata Uang Bambu
 
Selain menjual barang, biasanya warga memperdagangkan aneka makanan olahan khas yang dipanen di desa itu. Di antaranya, makanan ringan seperti glanggem, srowol, lentheng, mendut, gemblong, grubi, jenang, kimpul kukus, kacang, hingga nasi pecel dan bubur. Ada pula es kelapa muda, aneka macam kopi, dan kefir atau minuman dari fermentasi susu murni.
 
Meski tergolong baru, pasar yang baru dibuka perdana pada 11 Januari 2016 itu kini ramai ribuan pengunjung. Warga bahkan datang dari berbagai luar daerah Kabupaten Temanggung.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

 
Pemberdayaan ekonomi
Halaman Selanjutnya
Halaman Selanjutnya
Jadikan Viva News & Insight sumber pilihan di Google
Lanjut