Pria dengan Kesuburan Buruk Picu Bahaya COVID-19, Gairah Seks Menurun

Ilustrasi COVID-19/Virus Corona.
Ilustrasi COVID-19/Virus Corona.
Sumber :
  • pexels/Edward Jenner

VIVA Lifestyle – Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko tubuh menjadi sakit parah saat terinfeksi COVID-19. Ini termasuk kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya seperti diabetes, penyakit jantung dan penyakit paru-paru kronis. Jika Anda seorang pria, kadar testosteron di tubuh juga dapat membantu menentukan risiko keparahan COVID-19.

Dikutip dari laman The Health Site, pria dengan kadar testosteron rendah 2,4 kali lebih mungkin berakhir di rumah sakit karena infeksi COVID-19 yang serius daripada mereka yang kadar hormonnya dalam kisaran normal, ungkap sebuah studi baru. Kisaran normal kadar testosteron digambarkan sebagai 300 hingga 1.000 nanogram per desiliter. Risiko tinggi rawat inap COVID-19 terlihat pada pria dengan tingkat testosteron di bawah 200 nanogram per desiliter.

Para peneliti di balik penelitian ini menyarankan bahwa meningkatkan testosteron pada pria dengan kadar rendah dapat membantu mengurangi kasus COVID-19 yang parah, dan dengan demikian beban rawat inap COVID-19. Temuan penelitian, yang dilakukan oleh para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis dan Fakultas Kedokteran Universitas Saint Louis, dilaporkan di JAMA Network Open.

Ilustrasi COVID-19/virus corona

Ilustrasi COVID-19/virus corona

Photo :
  • Pixabay/Tumisu

Testosteron rendah dan tingkat keparahan COVID-19

Dalam penelitian ini, tim peneliti menganalisis data medis dari 723 pria yang terdiagnosis COVID-19, sebagian besar dinyatakan positif virus pada tahun 2020 ketika belum ada vaksin.

Di antara pria-pria yang terinfeksi COVID-19 ini, peneliti menemukan tingkat rawat inap COVID-19 yang lebih tinggi pada mereka yang memiliki kadar testosteron rendah dibandingkan dengan pria dengan kadar hormon normal. Risiko rawat inap COVID-19 tidak terlihat pada pria yang sebelumnya memiliki kadar testosteron rendah tetapi berhasil diobati dengan terapi penggantian hormon.