- VIVA.co.id/ Linda Hasibuan
Bahkan, perubahan e-commerce yang besar saat ini pun telah membuat perusahaan tersebut ikut menjadi pelaku bisnis jasa logistik yang dapat langsung mengirimkan barang sendiri ke pelanggan.
"Di saat e-commerce tumbuh, banyak juga beberapa logistic company tumbuh melayani bisnis itu. Bahkan, banyak yang menawarkan diskon khusus pengiriman dari pedagang di marketplace," kata Yuwono.
Ia mengungkapkan, dengan kondisi tersebut, tentu logistik tidak bisa dipisahkan dari industri e-commerce. Bahkan, seperti Lazada punya perusahaan logistik sendiri.
Untuk itu, dengan catatan tersebut, maka ke depan bisa diprediksi, investasi di industri mana yang akan meroket. Terlebih, pelaku bisnis bisa mencontoh Amazon yang tumbuh pesat diikuti oleh industri logistik yang meningkat.
Apalagi, lanjut dia, dengan Indonesia yang dinilai punya potensi sangat besar di industri ini, jumlah e-commerce masih sangat kurang dibandingkan dengan penduduk yang banyak.
![]()
Ketua Bidang Ekonomi dan Bisnis Asosiasi E-commerce Indonesia (idEA), Ignatius Untung, mengungkapkan, peningkatan usaha di bisnis jasa logistik tak bisa dilepaskan dari tumbuhnya transaksi online.
Sebab, dapat dilihat secara jelas antara e-commerce dan jasa logistik saling melengkapi, bukan saling memakan. Dan tak bisa dipungkiri juga, industri logistik hidup karena e-commerce.
Untuk itu, agar dua bisnis tersebut terus bertumbuh, maka perlu sinergi yang cukup baik ke depannya. Terutama dalam hal menambah jumlah jaringan di pelosok daerah di Indonesia.
Kondisi itu, lanjut Untung, memang menjadi pekerjaan rumah yang besar. Terlebih Indonesia tak mudah bisa dijangkau secara keseluruhan. Karena, daerah yang luas dan ada yang sangat terpencil, terkendala keterbatasan akses.
"Secara sistem sudah cukup baik. Nah, pekerjaan rumah selanjutnya adalah memperluas jaringan ke pelosok-pelosok, sehingga bukan hanya terjangkau, tetapi juga lebih affordable," ujarnya. (art)