- ANTARA FOTO/Zabur Karuru
"(Pengunjung) meningkat terutama wisatawan asing, karena awalnya Tanjung Puting itu di tahun 1970-an dikunjungi oleh asing sebagai lokasi studi kera besar. Untuk wisata sendiri mulai populer di tahun 1980-an," ujar Yaumi.
Sejak tahun 2007 hingga saat ini jumlah wisatawan yang berkunjung ke sana memang meningkat secara signifikan, kecuali di tahun 2015 yang sempat mengalami penurunan akibat kebakaran hutan dan asap, sehingga banyak wisatawan yang melakukan pembatalan kunjungan.
Sebagai informasi, pihak Yaumi menawarkan tiga paket wisata petualangan di Tanjung Puting, yang pertama berpetualang di tanah suku Dayak yang mengajak peserta untuk trekking, bamboo rafting, susur sungai, mengamati satwa, menikmati budaya lokal, seperti ritual masuk hutan, ritual penyambutan tamu dan ikut atau melihat aktivitas suku Dayak, seperti berladang, berburu dan mencari ikan.
![]()
(Sejumlah perempuan Suku Dayak melakukan tarian selama pertemuan antar kepala Suku Dayak. REUTERS/Yusuf Ahmad)
Kedua adalah menyusuri sungai dan menjelajahi hutan tropis serta mengamati orangutan. Kemudian paket wisata kombinasi antara jelajah tanah suku Dayak dan susur sungai. Harga yang ditawarkan sendiri mulai dari Rp5 juta per orang selama 3 hari 2 malam hingga Rp9 juta per orang selama 6 hari 5 malam, tergantung paket yang dipilih.
"Secara garis besar yang ke Tanjung Puting 65-70 persen (wisatawan) asing, sisanya domestik. Untuk jenis wisatanya lebih banyak ke susur sungai dan jelajah hutan tropis. 85 persennya ke situ. Sisanya 15 persen wisata jelajah tanah suku Dayak," ucap dia.
Ia juga mengungkapkan, kebanyakan dari wisatawan asing yang berkunjung ke sana berasal dari Prancis, Italia, Jerman, Inggris dan Amerika Serikat.
Galih menambahkan, banyaknya destinasi wisata bertaraf internasional di Indonesia juga membuat wisatawan mancanegara yang berwisata petualangan ke Tanah Air terus meningkat.
"Beberapa tempat wisata itu sudah bertaraf internasional, jadi banyak dikunjungi wisatawan asing. Gunung Agung, Rinjani dan lain-lain bulan puasa ini enggak tutup, soalnya banyak pendaki dari Singapura, Hong Kong dan China yang ke sana," ujar Galih yang sering mengkoordinir tim EAST ke berbagai lokasi wisata petualangan di Indonesia itu.