- ANTARA FOTO/Zabur Karuru
"Potensinya bagus. Kalau lihat dari peminatnya makin banyak. karena selama ini yang unggulan pariwisata dari hasil survei nasional yang diminati selama ini 60 persen budaya, 35 persen alam, dan 5 persen wisata buatan," ujar Kusnoto.
Ia juga mengatakan, prediksi tersebut dilihat dari penyelenggara wisata petualangan yang juga meningkat. Ini lantas membuat tim percepatan di Kementerian Pariwisata terus mengeksplorasi potensi-potensi pariwisata yang ada di daerah-daerah.
Walaupun begitu, ia mengakui bahwa masih banyak kendala dalam hal pengembangan yang harus dilakukan dari sisi sarana dan prasarana. Salah satunya ialah izin usaha, yang mana saat ini standar usaha wisata petualangan yang baru keluar dari Menpar Arief Yahya baru arung jeram. Sedangkan wisata petualangan lain seperti mendaki gunung dan lainnya belum ada standar usahanya.
"Sekarang ini kami sedang menggodok itu. Untuk standar usaha lain seperti gunung, gua, termasuk dirga sedang kita usulkan. Diharapkan kalau mereka semua sudah punya standar usaha, akan lebih mudah untuk mengatur itu. Kalau untuk pemandunya mereka sudah bersertifikasi semua," katanya.
![]()
Wisata arung jeram di Batang Anai, Sumatera Barat. (ANTARA FOTO/Maril Gafur)
Arung jeram yang sudah ada standar usahanya pun masih menghadapi beberapa kendala. "Misalnya, sungai yang dipakai kadang belum ada peraturan mengenai sungai itu dikuasai siapa. Kadang mereka ada yang buat sendiri, muncul yang baru-baru. Tapi repotnya standar usaha yang ada keselamatan di arung jeram kurang terpenuhi. Misalnya, arung jeram harus ada helm, lifeguards, kadang ada wisatawan yang bawa anak kecil padahal tidak boleh. Itu yang banyak kecelakaan di situ," ucap dia.
Belum lagi soal sejumlah penyelenggara wisata yang belum resmi, yang tentu saja fasilitas keamanannya belum tentu terjamin. Menurutnya, dibutuhkan Peraturan Daerah (Perda) yang mengatur penyelenggara wisata petualangan di wilayahnya masing-masing.
Kusnoto menambahkan, bahwa saat ini pihaknya masih berusaha untuk mengurus asuransi jiwa bagi para peserta wisata petualangan. Karena wisata ini memiliki banyak risiko, maka Kemenpar mengimbau para penyelenggara wisata petulangan bermitra dengan asuransi. Sedangkan pihak asuransi disebut masih mempelajari kemitraan itu karena mereka tahu bahwa wisata petualangan berisiko tinggi.