- ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan
Sedangkan Ma'rufin menuliskan, 800 kilometer kubik material yang dimuntahkan Letusan Toba Muda sisanya berupa debu vulkanis halus yang membumbung tinggi pada ketinggian 70 kilometer. Sebagain debu vulkanik tertiup angin ke barat menyelimuti area seluas lebih dari 4 juta kilometer persegi, yang meliputi India, Semenanjung Malaysia, Teluk Benggala, Samudera Hindia bagian utara, Laut Arab dan Semenanjung Arabia. Ma'rufin menuliskan, ketebalan endapan debu vulkanik mencapai rata-rata 10 cm.Â
Sisa debu lainnya terbawa sirkulasi angin di lapisan stratosfer hingga menyebar ke seluruh penjuru dunia. Debu vulkanik itu sampai di stratosfer dan bertahan hingga bertahun-tahun sebelum jatuh ke permukaan Bumi dan menciptakan musim dingin vulkanik yang bertahan sekitar 1000 tahun usai Letusan Toba Muda.
Musim dingin vulkanik berdampak signifikan pada kehidupan. Bumi seisinya masuk ke dalam zaman es Wurm utama, padahal kala itu Bumi baru keluar dari zaman es Wurm awal 20 ribu tahun sebelumnya. Zaman es Wurm terjadi sekitar 50 ribu tahun kemudian dan berakhir sekitar 20 ribu tahun lalu. Musim dingin ini membuat intensitas cahaya Matahari berkurang 1 persen dari normalnya, sehingga mayoritas tumbuhan tak bisa berfotosintesis dan lama-lama mati.Â
Rantai makanan terdampak juga, mayoritas binatang kelaparan dan mati, populasi hewan merosot tajam. Manusia kuno kala itu juga merasakan dahsyatnya Letusan Toba Muda, 60 persen dari populasi manusia kala itu tewas menyisakan sekitar 15 ribu populasi yang berjuang bertahan hidup.
Misteri Danau Purba
Danau Toba masih membuat penasaran orang sampai kini, termasuk saat KM Sinar Bangun tenggelam pada beberapa pekan lalu. Salah satu yang menjadi perhatian publik adalah kenapa tiap kali ada kapal tenggelam, bangkai kapal beserta korban penumpangnya langsung hilang tak bisa ditemukan.Â
Dalam kasus tenggelamnya KM Sinar Bangun, tim Basarnas dan tim gabungan telah berhasil mendeteksi titik bangkai KM Sinar Bangun pada titik kedalaman 450 meter di bawah permukaan Danau Toba, dekat dengan Dermaga Tigaras.
Titik bangkai KM Sinar Bangun setidaknya 10 kali lebih dalam dibandingkan dengan titik jatuh kapal feri Sewol Korea Selatan yang tenggelam di laut pada April 2014 lalu.Â