- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Frasa baru itu sesungguhnya hanyalah gabungan kata politik dengan genderuwo, sesosok makhluk gaib serupa manusia yang tinggi besar dan berbulu tebal. Namun gabungan keduanya diartikan sebagai pernyataan-pernyataan elite politik yang seolah menutup mata dengan capaian-capaian pemerintah, malahan menebar pesimisme dan ketakutan pada masyarakat. "Itu sering saya sampaikan, itu namanya politik genderuwo; nakut-nakuti."
Ungkapan tak lazim Jokowi sebagai Kepala Negara itu pun segera menjadi tema baru polemik kubu lawan. Fadli Zon, wakil ketua umum Partai Gerindra, misal, bahkan menulis puisi yang ia beri judul Ada Genderuwo di Istana. "Ada genderuwo di istana, seram berewokan mukanya; kini sudah pandai berpolitik, lincah manuver strategi dan taktik," tulisnya.
Calon wakil presiden penantang, Sandiaga Uno, membalas ejekan Jokowi dengan ungkapan satire bahwa mungkin yang dimaksud Presiden aneka macam masalah dalam perekonomian nasional. "Yang berkaitan dengan ekonomi rente, mafia ekonomi, mafia pangan atau mafia lainnya, sebagai genderuwonya ekonomi," katanya.
Kubu Jokowi merasa ungkapan-ungkapan sang calon presiden sebetulnya reaksi atas pihak lawan yang kerap mengumbar kemuraman masa depan. Juru Bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily, mencatat beberapa ungkapan kubu lawan, misal, Prabowo Subianto yang menyebut bahwa 99 persen rakyat Indonesia hidup pas-pasan.
Begitu pula dengan Sandiaga Uno yang mencoba menggambarkan perekonomian nasional lesu dengan metafora tempe kini setipis kartu ATM, atau betapa hampir tak berharganya uang pecahan Rp100.000 karena sekarang hanya cukup bisa beli cabai dan bawang. Menyusul lagi ungkapan Sandiaga bahwa nasi ayam lebih murah di Singapura dibandingkan di Jakarta.
![]()
Bakal calon Presiden dan Wakil Presiden Prabowo Subianto (kiri) dan Sandiaga Uno (tengah) bersama Ketua DPP PAN Yandri Susanto (kanan) memberikan keterangan pers di kediaman Prabowo, Jalan Kertanegara, Jakarta, Jumat, 7 September 2018. (ANTARA FOTO/Galih Pradipta)
Pernyataan-pernyataan seperti itu, kata Ace, tentu saja tak sesuai kenyataan; faktanya perekonomian tumbuh dan bahkan uang seratus ribu dapat dibelanjakan aneka kebutuhan pokok. Tetapi kalau gambaran-gambaran kemuraman itu dibiarkan, katanya, masyarakat bisa menganggapnya benar.