- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Penyebab situasi itu, selain fenomena global, menurut Hamdi, tak dapat dilepaskan dari betapa cairnya ideologi partai-partai politik di Indonesia, atau kalau pun ada sesungguhnya tak ada yang kuat. Ideologi pada dasarnya tetap penting sebagai landasan merumuskan visi-misi dan program kerja. Masalahnya sekarang hampir tak ada partai politik yang memiliki ideologi kuat.
Karena itulah, Hamdi mencontohkan, tak ada yang membedakan antara koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf dengan koalisi Prabowo-Sandiaga. "Dengan kata lain, platform program Jokowi-Ma'ruf dan Prabowo-Sandi, kalau saya bedah hampir sama, nyaris enggak ada beda, di 2014 juga gitu. Jadi apanya yang mau didebatkan," ujarnya. "Yang tersisa dari kedua calon ini, atau yang membedakan kedua calon ini, tinggal sosok."
Spontan atau Rekayasa
Andre Rosiade meyakinkan publik, kalau pun memang ada ungkapan-ungkapan yang dianggap aneh justru pada akhirnya menyebabkan polemik, itu spontan saja dan bukan dirancang dari awal. Sebab pada intinya Prabowo maupun Sandiaga mencoba menawarkan alternatif atas kegagalan pemerintah sekarang.
Jika ungkapan tertentu lalu menuai pro dan kontra, Andre berdalih, itu tak lebih hasil rekayasa pihak-pihak tertentu yang membesar-besarkan satu masalah. Dia mencontohkan polemik ucapan Prabowo tentang "tampang Boyolali". Ungkapan itu, katanya, sesungguhnya tak diniatkan untuk menghina atau melecehkan siapa pun, tetapi beberapa pihak lain mengelola isunya menjadi komoditas politik.
Dia malah menengarai itu karena kubu lawan mulai panik setelah elektabilitas Jokowi, berdasarkan beberapa hasil survei, di bawah 50 persen. Persentase itu, katanya, angka yang tak aman bagi calon petahana seperti Jokowi, padahal pemilu tinggal lima bulan.
"Mereka," Andre menengarai situasi di tim pemenangan Jokowi-Ma'ruf, "Enggak nyangka survei Pak Jokowi itu enggak naik-naik, sehingga mulailah muncul kepanikan dari Pak Jokowi sendiri juga; keluarlah itu pernyataan sontoloyo, genderuwo."
![]()
Calon Presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto (kanan) saat kegiatan kampanye di Boyolali, Jawa Tengah. (Twitter.com/@Gerindra)
Dia pun menepis penilaian sebagian kalangan bahwa perang kata-kata aneh dan tak penting itu meniru kesuksesan Donald Trump mengalahkan Hillary Clinton dalam pemilu Amerika Serikat tahun 2016. Sekali lagi, katanya, Prabowo maupun Sandiaga hanya berfokus pada masalah perekonomian. "Jadi kita enggak mau ikut-ikutanlah seperti itu, enggak mau lempar pernyataan kontroversial."