- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
"Karena di era post-truth (politik pasca-kebenaran yang mengutamakan emosi dan keluar dari inti kebijakan) sekarang ini, lontaran seperti itu jika tidak ditanggapi, itu bisa benar. Yang rugi siapa, rakyat. Karena akan dimanfaatkan spekulan ekonomi, pedagang-pedagang untuk membiarkan itu," ujarnya kepada VIVA di Jakarta, Kamis, 15 November.
Sebaliknya, kubu Prabowo menuding lawan merekalah yang memulai memunculkan istilah-istilah aneh itu. "Yang mengeluarkan celotehan-celotehan yang enggak substansi, ya, kubu sebelah," kata juru bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga, Andre Rosiade.
Andre mengklaim, Prabowo maupun Sandiaga tetap fokus pada substansi seputar ekonomi. Prabowo maupun Sandiaga, tiap berkunjung ke daerah menemui masyarakat, yang disampaikan selalu menyangkut perekonomian secara makro, penciptaan lapangan pekerjaan, dan harga kebutuhan bahan pokok atau pangan terjangkau.
Perang Kata-kata
Sejumlah kalangan menengarai, gejala perilaku elite politik saling sindir itu bukan cuma ekspresi upaya memerosotkan pamor antarcalon di mata masyarakat, melainkan justru bagian dari strategi kampanye. Guru besar ilmu psikologi politik pada Universitas Indonesia, Hamdi Muluk menilai, gejala itu sesungguhnya salah satu siasat mengelola perhatian masyarakat di tengah masa kampanye yang terlalu panjang—tujuh bulan, sejak 23 September 2018 sampai 13 April 2019.
Pada dasarnya, kata Hamdi, tak ada yang benar-benar baru dalam rangkaian pemilu kali ini. Dua calon presiden pun orang lama yang bersaing dalam pemilu tahun 2014; hanya masing-masing calon wakilnya yang orang baru. Begitu pula dengan partai politik yang terlibat dalam kontestasi lima tahunan itu.
Masing-masing kontestan, Hamdi berpendapat, merasa perlu semacam selingan atau intermeso mengingat masa kampanye yang begitu panjang itu. Belum lagi kalau dihitung dengan kampanye tak resmi jauh sebelum masing-masing ditetapkan sebagai pasangan calon presiden dan wakil presiden. Maka dilontarkanlah kata-kata tak lazim, tidak hanya ungkapan "politikus sontoloyo" atau "politik genderuwo" oleh Jokowi, melainkan juga celotehan Prabowo tentang "tampang Boyolali".
![]()
Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno berdiskusi sambil ngopi bareng dengan kalangan milenial dan emak-emak, di Cafe Kabeuki, Sirnagalih, Kota Tasikmalaya, Jawa Barat, Senin, 15 Oktober 2018. (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi)