- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Sandiaga memulainya dengan ragam istilah—baru atau lama yang diperbarui—seperti "kaum emak-emak", "politik cabai", "baper", "julid", dan lain-lain. Ma'ruf Amin, calon wakil presiden Jokowi, menyusul belakangan dengan ungkapan "buta dan budek" untuk mereka yang menutup mata dengan prestasi yang dicapai Jokowi.
Tetapi, menurut Hamdi, siasat itu sebetulnya dapat dibaca juga bahwa masing-masing calon menyadari masyarakat mulai jenuh dengan politik elektoral yang berjalan sekarang, sementara coblosan masih jauh. Pada aspek lain, masing-masing kandidat lama itu tak menawarkan sesuatu yang baru, entah berbentuk program atau gagasan atau terobosan, dalam politik maupun pembangunan secara umum.
Kubu oposisi atau penantang mestinya, dia menyarankan, mengajukan seperangkat program tandingan yang kuat sekalian mampu menarik simpati publik. Tetapi yang terjadi malahan jargon atau slogan belaka. "... atau justru cuma melempar seolah-olah kritik, tapi kosong, tanpa data dan argumen yang kuat." Akibatnya, kritik-kritik kosong maupun jargon dan slogan tak cukup efektif memerosotkan popularitas calon petahana.
Bahkan kelompok oposisi justru terjebak pada politik identitas dan melakukan pembunuhan karakter lewat isu-isu lawas seperti sentimen anti-PKI, anti-Islam, antek aseng atau asing, dan seterusnya.
"Informasi tentang kedua calon nyaris sudah sepenuhnya diketahui publik; tidak ada informasi baru lagi, sudah jenuh. Nah, harusnya oposisi datang menggebrak kejenuhan ini, karena dia penantang, dia yang harus ambil inisiatif, supaya masyarakat dapat perspektif baru," katanya menjelaskan.
Gejala semacam itu sebetulnya tak hanya di Indonesia melainkan global. Perilaku politik di era post-truth, sebagaimana diungkapkan pakar ilmu komunikasi politik Effendi Gazali, memang cenderung mengarah pada jargon-jargon kosong dan lebih banyak bersifat saling serang secara personal.
![]()
Pakar ilmu komunikasi politik Effendi Gazali, (VIVA/Tri Saputro)
Effendi mengutip rumusan pakar komunikasi politik American University of Paris, Jayson Harsin, tentang gejala situasi politik penuh rumor atau berita-berita hoax dan saling serang antarpolitikus. "Penggunaan medsos (media sosial) dan smartphone yang tinggi, terang-terangan menunjukkan sikap politik dan identitas, lebih menggunakan strategi berkonflik dan menyerang personality (pribadi), sambil semua mengaku memperjuangkan rakyat," ujarnya.