- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Kubu Jokowi mengakui kebalikan dari kubu Prabowo. Ungkapan-ungkapan ejekan yang cenderung kasar itu sebenarnya bagian dari siasat saja, meski bukan diniatkan untuk memicu kontroversi atau kegaduhan, melainkan sekadar trik penyampaian agar lebih mudah dipahami kalangan awam.
Ace Hasan Syadzily mengulangi penjelasannya bahwa istilah "politikus sontoloyo" atau "politik genderuwo" dimaksudkan untuk menyangkal pandangan yang dibangun kubu lawan tentang kemuraman situasi perekonomian. Kunjungan Jokowi ke sejumlah pasar tradisional, misal, dimaksudkan untuk membuktikan harga-harga kebutuhan pokok relatif stabil dan cukup terjangkau.
Begitu pula program-program jaring pengaman sosial seperti Program Keluarga Harapan, Kartu Indonesia Sehat, Kartu Indonesia Pintar, dan lain-lain, dijalankan untuk memberikan jaminan sosial kepada masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah.
Semua itu, katanya, "sebetulnya ingin mengatakan kepada rakyat: jangan takut! Justru jangan membuat kita menjadi pesimistis."
Dia malah menuding kubu lawan yang cenderung menerapkan strategi perang kata-kata atau kontroversial ala Trump dalam pemilu di Indonesia. Alasannya, dia mengklaim, pada dasarnya hampir tak ada kritik substantif kubu Prabowo-Sandiaga atas kinerja pemerintahan Presiden Jokowi, kecuali menciptakan cerita-cerita yang tidak sesuai fakta.
"Mereka heboh, mencuri perhatian, menyampaikan gagasan yang tidak sesuai dengan fakta; menyebut rakyat Indonesia 99 persen hidup pas-pasan, yang enggak tahu sumbernya dari mana. Itu, kan, cenderung menjadi kebohongan," katanya.
Apa pun alasan atau dalih kedua pasang calon, strategi perang kata-kata itu dianggap jelas tak berfaedah, bahkan tak menambah nilai elektoral masing-masing. Malahan, menurut Direktur Lingkaran Survei Indonesia Denny JA, Adjie Alfaraby, perang kata-kata akan memperlihatkan kepada publik bahwa kedua pasang calon sama-sama buruk.
"Jadi," kata Alfaraby, "bukan pilihan mana yang lebih baik, tapi mana yang lebih buruk."
Kalau pola semacam itu diteruskan, alih-alih kembali berfokus pada tawaran program kerja, Alfaraby berpendapat, hanya bersumbangsih menguatkan pemilih loyal masing-masing calon. Sebab Jokowi maupun Prabowo sama-sama memiliki pemilih loyal hasil pemilu 2014. Artinya pula, model kampanye tak mendidik dan justru memicu kegaduhan itu tak akan menambah atau sanggup menjaring pemilih baru.