- ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Alfaraby mengingatkan, berdasarkan hasil riset sebagian lembaga survei, calon pemilih yang belum menentukan pilihan karena masih bimbang atau ragu hingga kini masih cukup besar, kira-kira 20 persen. Jika jumlah pemilih sebanyak itu tak dijangkau, katanya, "dua-duanya (Jokowi dan Prabowo) gagal untuk memperluas basis pemilih mereka, dan menarik simpati pemilih yang mengambang."
![]()
Sejumlah warga Boyolali yang tergabung dalam Forum Boyolali Bermartabat melakukan aksi damai Save Tampang Boyolali di Boyolali, Jawa Tengah, Minggu, 4 November 2018. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho)
Pemilih yang awalnya ragu untuk memilih bisa jadi pada akhirnya memutuskan tidak memilih sama sekali, karena para kandidat hanya membuat kegaduhan, tanpa menawarkan alternatif perubahan.
Dia menepis kemungkinan perang kata-kata itu sesungguhnya bagian dari strategi kampenye saja, terutama untuk menaikkan popularitas masing-masing kandidat. Dugaan itu, katanya, bisa diterapkan kalau dua pasang calon sama-sama tokoh baru yang belum dikenal luas publik.
Jokowi dan Prabowo, katanya, tentu saja bukan tokoh baru, bahkan keduanya sama-sama bertarung dalam pemilu 2014. Karena itulah keduanya memiliki basis pemilih loyal. Maka strateginya mestinya bukan lagi berupaya menaikkan popularitas, melainkan merebut simpati calon pemilih baru yang sekarang masih bimbang.
Alfaraby malah mencurigai perang kata-kata sejatinya untuk menutupi kekurangan karena masing-masing calon tak memiliki program dan tawaran terobosan yang jelas. "Sehingga lebih banyak yang dikontestasikan adalah kata-kata yang lebih sensasional atau lebih sentimen." (umi)
Baca Juga
Dari Sontoloyo hingga Tampang Boyolali