Waspada Benih Radikalisme

Potensi radikalisme di lima provinsi di Indonesia hasil survei BNPT, The Nusa Institute, dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme/Ilustrasi.
Potensi radikalisme di lima provinsi di Indonesia hasil survei BNPT, The Nusa Institute, dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme/Ilustrasi.
Sumber :
  • VIVA.co.id/BNPT

Penyebaran benih-benih paham radikal ke masyarakat dengan sasaran pertama perguruan tinggi dinilai sudah lama. Dan perguruan tinggi menjadi salah satu muara potensial dengan menyasar calon intelektual seperti mahasiswa.

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ismunandar mengatakan, dari penelitian benih radikal ini sudah muncul sejak 1980-an. Menurut dia, saat itu pemberlakuan normalisasi kehidupan kampus/badan koordinasi kemahasiswaan (NKK/BKK) pada 1980-an atau saat Orde Baru menjadi salah satu pemicu.

Luthfi Assyaukanie dalam bukunya, Ideologi Islam dan Utopia (2011:3), era pemerintahan Soeharto menerapkan kebijakan represif terhadap Islam. Hal ini dinilai berdampak pada sikap politik dan mentalitas kaum Muslimin Indonesia. Namun, kebijakan Orba hanya salah satu faktor penyebab.

"Tapi, ini bukanlah satu-satunya faktor yang menjelaskan mengapa terjadi perubahan radikal," demikian dikutip dari buku tersebut.

Radikalisasi Instan?

?

Menguatnya penyebaran paham radikalisme saat ini dinilai karena prosesnya yang didukung perkembangan teknologi. Mantan teroris Ali Fauzi mengatakan, radikalisme di era sekarang sudah berbeda dengan zaman sebelumnya termasuk Orde Baru. Bukan hanya mengincar lewat jalur kampus.