- VIVA/M Ali Wafa
Hendro Satrio juga memiliki penilaian yang sama. Pengamat politik dari Universitas Paramadina ini mengatakan, aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa murni atas inisiatif sendiri. Menurut dia, pemicunya adalah revisi UU KPK. “Semangat antikorupsi itu masuk ke darah mereka. Sehingga ketika semangat antikorupsi itu sengaja dilemahkan, maka mereka keluar kampus untuk memperjuangkan itu,” ujarnya.
Sama seperti Savic, Hendro juga mengatakan, dalam sejarah gerakan yang namanya memanfaatkan momentum pasti ada. Namun, mahasiswa yang aksi kemarin bukan pendemo bayaran. “Mahasiswa ini turun ke jalan karena idealisme.”
Fadli Zon juga menilai, aksi yang dilakukan para mahasiswa di berbagai kota murni karena idealisme dan panggilan nurani bukan karena ada yang menunggangi. “Siapa sih yang bisa menggerakkan, siapa yang mau menunggangi dan menunggangi untuk apa”
Menurut dia, aksi unjuk rasa yang marak di berbagai kota juga tidak akan berujung pada Reformasi jilid II. Pasalnya, saat ini mereka fokus dengan tuntutan yang disuarakan.
Berbeda dengan Reformasi
Savic Ali mengatakan, aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa di berbagai kota tidak akan berujung pada reformasi seperti tahun 1998. Karena menurut dia, kondisinya berbeda. Kalau 1998 ada isu ekonomi yang menjadi trigger. Saat itu ada isu krisis moneter dimana harga-harga melambung tinggi. “Ketika itu ada kesulitan ekonomi yang dirasakan oleh masyarakat ketika krisis moneter yang berkepanjangan ketika itu,” ujarnya.
Selain itu, aksi yang dilakukan mahasiswa pada tahun 1998 merupakan akumulasi kemarahan terhadap kekuasaan yang sudah terlalu lama. Karena 30 tahun lebih Soeharto berkuasa dan kekuasaannya dilakukan dengan represif.
Menurut dia, saat ini isu yang diusung para mahasiswa sangat intelektual sehingga agak sulit dipahami masyarakat yang tidak terdidik. Karena isunya terkait Undang-undang KPK, RUU KUHP, isu pelemahan demokrasi. Masih banyak kelas bawah yang belum paham dengan isu itu. Sementara kalau 1998 hampir semua orang sangat paham kenapa harus bergerak, karena isunya terkait dengan krisis ekonomi.
“Jadi gabungan kesadaran antara kelas menengah yang merasa kekuasaan represif Soeharto sudah terlalu lama bertemu dengan kenyataan hidup masyarakat yang saat itu dalam kesulitan. Kalau sekarang kan relatif tidak kan.”