- VIVA/M Ali Wafa
Penunggang Gelap
Pemerintah dan polisi menuding, aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa ada yang menunggangi. Bentrokan yang terjadi di depan Gedung DPR/MPR Jakarta dan sejumlah daerah dijadikan bukti. Namun, tuduhan itu dibantah. “Sangat wajar dalam gerakan aksi massa ada pihak-pihak yang merasa dirugikan ataupun diuntungkan. Tapi bagi kami kepentingan rakyat yang harus disuarakan,” ujar Sigit.
Agung mengakui, dalam konsolidasi antarelemen ada beberapa isu yang keluar dari tuntutan utama. Menurut dia, ada dua isu atau tuntutan bernada tunggangan yang disuarakan sebagian kecil elemen, yakni isu menggagalkan pelantikan Jokowi dan tuntutan referendum untuk Papua. Namun isu tersebut diredam karena itu bukan tujuan mahasiswa. "Kita menolak orang-orang yang berbasis kepentingan," ujarnya menegaskan.
Sementara menurut Ridwan, demonstrasi yang dilakukan mahasiswa murni karena keresahan atas beberapa RUU kontroversial. Dia juga memastikan demonstrasi di Malang tidak ditunggangi kepentingan politik kelompok tertentu. Apalagi tuntutan mengagalkan pelantikan Jokowi.
"Tidak ada target untuk menggagalkan pelantikan Jokowi. Kalau kami memikirkan ditunggangi maka gerakan tidak akan pernah terjadi. Kami hanya menganggap gerakan kami ditunggangi kepentingan rakyat yang menderita."
Savic yakin, mahasiswa bergerak secara mandiri dan atas inisiatif sendiri. Hal ini bisa dilihat dari kondisi di lapangan. “Mereka menyewa bis sendiri. Ada yang datang pakai angkutan umum, pakai kereta, kendaraan pribadi seperti motor,” ujar pendiri Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) ini.
Menurut dia, aksi-aksi tersebut muncul dari sebuah kesadaran bahwa ada yang tidak benar dalam proses bernegara, bahwa ada yang tidak benar terkait dengan komitmen pemerintah dan DPR terkait dengan pemberantasan korupsi dan KUHP. “Mereka saya kira bergerak dengan sendirinya. Saya kira aksi Gejayan Memanggil itu jadi trigger. Orang-orang yang kecewa dengan pemerintah dan DPR itu kan hanya butuh diorganisir saja. Jadi ketika ada yang mengorganisir, mengaktifasi, mereka akan bergerak,” ujarnya.
Namun ia tidak membantah jika ada kelompok yang mengambil manfaat dari aksi unjuk rasa yang dilakukan mahasiswa. Menurut dia, dalam setiap gerakan besar selalu ada kelompok yang berusaha mengambil manfaat. “Itu tidak bisa kita hindari. Zaman ‘98 juga begitu. Banyak elit-elit yang tiba-tiba balik arah, menteri-menterinya sampai mundur. Ada sekian banyak orang yang menyumbang makanan, air minum ke DPR, yang mungkin sebagian dari mereka punya kepentingannya sendiri-sendiri.”